POLTEKKES KEMENKES MANADO
DIPLOMA III KEBIDANAN
Tugas dari Ibu Anita Lontaan, S.Pd., M.Kes.
“PERUBAHAN SISTEM HEMATOLOGI PADA
MASA NIFAS”

KELOMPOK 7 :
Dewi Nurwenda Sari Wahid
Kurnia Rewah
Maria Olivia Kaunang
TINGKAT : II A DIII KEBIDANAN
MK. : ASKEB. MASA NIFAS DAN MENYUSUI
POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENKES MANADO
DIPLOMA III
KEBIDANAN
T/A : 2015 - 2016
KATA PENGANTAR
Segala Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas berkat dan kasih karunia sehingga kami dapat menyelesaikan tugas tentang Perubahan
Sistem Hematologi Pada Masa Nifas ini dengan
tepat waktu.
Kami
berharap tugas ini dapat berguna bagi semua pihak yang membaca baik untuk Dosen
dalam proses mengajar maupun Mahasiswa dalam proses belajar dan memahami
materi-materi yang ada.
Akhir kata, ada pepatah mengatakan “Jadilah
seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk” artinya banyak ilmu yang
kita miliki janganlah membuat kita sombong karena kesombongan akan merugikan
diri kita sendiri,dan tetaplah berjuang untuk mencappai cita-cita karena masih
panjang perjalanan yang harus kita lalui.
Demikianlah
Makalah ini dibuat, kami harapkan saran dan kritik apabila ada kesalahan dalam
penulisan, guna untuk memperbaiki agar lebih baik lagi kedepannya.
Manado,
12 Agustus 2015
Penulis:
(Dewi Nurwenda Sari Wahid)
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Periode
pasca partum ialah masa enam minggu
sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali ke keadaan normal
sebelum hamil. Periode ini biasanya disebut puerpurium atau trimester ke 4
kehamilan. Perubahan fisiologis yang terjadi sangat jelas, walaupun dianggap
normal dimana proses-proses pada kehamilan berjalan terbalik. Banyak faktor,
termasuk tingkat energi, tingkat kenyamanan, kesehatan BBL, dan perawatan serta
dorongan semangat yang diberikan tenaga
kesehatan profesional ikut membentuk respon ibu terhadap bayinya selama
masa ini. Untuk memberi perawatan yang menguntungkan ibu, bayi dan keluarganya,
seorang perawat harus memanfaatkan pengetahuannya tentang anaotmi dan fisiologi
ibu pada periode pemulihan, karakteristik fisik, dan perilaku BBL, dan respon
keluarga terhadap kelahiran seorang anak.
1.2 PERMASALAHAN
Masalah
yang ingin dipelajari dalam penyusunan makalah ini yaitu bagaimana perubahan
haematologi yang terjadi pada masa nifas?
1.3 TUJUAN
Tujuan penyusunan makalah
ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari perubahan haematologi yang terjadi
pada masa nifas.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Hematologi
Hematologi
adalah ilmu yang mempelajari tentang darah serta jaringan yang membentuk darah.
Darah merupakan bagian penting dari sistem transport. Darah merupakan jaringan
yang berbentuk cairan yang terdiri dari 2 bagian besar yaitu plasma darah dan
bagian korpuskuli.
Pada
awal post partum, jumlah hemoglobin, hematokrit dan eritrosit sangat bervariasi. Hal ini disebabkan volume darah, volume plasenta dan
tingkat volume darah yang berubah-ubah. Tingkatan ini
dipengaruhi oleh status gizi dan hidarasi dari wanita
tersebut. Jika hematokrit pada hari pertama atau kedua lebih rendah dari titik
2 persen atau lebih tinggi daripada saat memasuki persalinan awal, maka pasien dianggap telah
kehilangan darah
yang cukup banyak. Titik 2 persen kurang lebih sama dengan kehilangan darah 500 ml darah.
Penurunan
volume dan peningkatan sel darah
pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada hari ke 3-7 post partum dan akan normaldalam
4-5 minggu postpartum. Jumlah kehilangan darah
selama masa persalinan kurang lebih 200-500 ml, minggu pertama post partum berkisar 500-800 ml dan selama sisa masa nifas berkisar 500 ml.
2.1.1 PERUBAHAN SISTEM HEMATOLOGI
Selama
minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma serta
faktor-faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama postpartum, kadar
fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah lebih mengental dengan
peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah.
Leukositosis yang meningkat dimana jumlah sel darah putih dapat mencapai 15000
selama persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa hari pertama dari masa
postpartum. Jumlah sel darah putih tersebut masih bisa naik lagi sampai 25000
atau 30000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami
persalinan lama. Jumlah hemoglobine, hematokrit dan erytrosyt akan sangat
bervariasi pada awal-awal masa postpartum sebagai akibat dari volume darah,
volume plasenta dan tingkat volume darah yang berubah-ubah. Semua tingkatan ini
akan dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi wanita tersebut.
Kira-kira
selama kelahiran dan masa postpartum terjadi kehilangan darah sekitar 200-500
ml. Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan
dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobine pada hari ke 3-7 postpartum dan
akan kembali normal dalam 4-5 minggu postpartum.
2.1.2 PERUBAHAN VOLUME DARAH
Dalam keadaan tidak hamil maka 70% dari
berat badan adalah air.
·
5%
diantaranya adalah cairan intravaskular.
·
70%
adalah cairan intraseluler dan
·
Sisanya
adalah cairan interstisial
Dalam
kehamilan, cairan intraseluler tidak berubah namun terjadi peningkatan volume
darah dan cairan interstitsiil.
Peningkatan
volume plasma lebih besar dibandingkan peningkatan sel darah merah sehingga
terjadi anemia dan peningkatan kadar protein sehingga kekentalan (viskositas)
darah menurun.
2.1.3 PERUBAHAN VASKULAR LOKAL
Perubahan
lokal terlihat jelas pada tungkai bawah dan akibat tekanan yang ditimbulkan
oleh uterus terhadap vena pelvik. Oleh karena 1/3 darah dalam sirkulasi berada
dalam tungkai bawah maka peningkatan tekanan terhadap vena akan menyebabkan varises dan edema vulva dan tungkai. Keadaan ini lebih sering
terjadi pada siang hari akibat sering berdiri. Keadaan ini cenderung untuk reversibel
saat malam dimana pasien berada dalam keadaan berbaring : edema akan
direabsorbsi – venous return meningkat dan output ginjal meningkat sehingga
terjadi nocturnal diuresis. Bila pasien dalam keadaan telentang, tekanan uterus
terhadap vena akan juga meningkat sehingga aliran balik ke jantung menurun dan
terjadi penurunan cardiac output.
Suatu
contoh ekstrim terjadi saat uterus menekan vena cava dan menurunkan CO sehingga
pasien terengah-engah dan dapat menjadi tidak sadarkan diri. Dapat terjadi
sensasi nause dan gejala muntah. Gejala ini – SUPINE HYPOTENSIVE SYNDROME harus
senantiasa diingat saat melakukan pemeriksaan kehamilan pada pasien hamil
lanjut.
Perubahan
nilai hasil pemeriksaan darah seperti nilai haemoglobin merupakan akibat dari
kebutuhan kehamilan yang dipengaruhi oleh peningkatan volume plasma.
Terjadi
peningkatan eritrosit sebesar 18% dan terjadi peningkatan volume plasma sebesar
45%. Dengan demikian maka terjadi penurunan hitungeritrosit per mililiter dari
4.5 juta menjadi 3.8 juta. Dengan semakin bertambahnya usia kehamilan, volume
plasma semakin menurun dan hitung eritrosit menjadi sedikit meningkat sehingga
kadar hematokrit selama kehamilan menurun namun sedikit meningkat menjelang
aterm.
Perubahan
kadar haemoglobin paralel dengan yang terjadi pada eritrosit. Mean Cell
Haemoglobin Concentration pada keadaan non pregnant adalah 34% yang berarti
bahwa setiap 100 ml eritrosit mengandung 34 g haemoglobin. Nilai ini selama
kehamilan tidak berubah dengan demikian maka nilai volume eritrosit total dan
haemoglobin total meningkat selama kehamilan. Peningkatan volume plasma menyebabkan
penurunan kadar haemoglobin.
Selama
masa kehamilan kadar haemoglobin turun sampai minggu ke 36. Penurunan ini mulai
terlihat pada minggu ke 12 dan nilai minimum terlihat pada minggu ke 32.
Terlihat
dari data diatas bahwa tidak ada satu nilai normal yang dapat ditemukan selama
kehamilan. Fakta ini penting dalam menegakkan diagnosa anemia dalam kehamilan.
Pada minggu ke 30, kadar haemoglobin sebesar 105g/l adalah normal, namun nilai
tersebut pada minggu ke 20 meunjukkan adanya anemia.
§ Zat besi
Dengan
peningkatan jumlah eritrosit, kebutuhan akan zat besi dalam proses produksi
hemoglobin meningkat. Bila suplemen zat besi tidak diberikan, kemungkinan akan
terjadi anemia defisiensi zat besi.
Kebutuhan
zat besi pada paruh kedua kehamilan kira-kira 6–7 mg/hari. Bila suplemen zat
besi tidak tersedia, janin akan menggunakan cadangan zat besi maternal.
Sehingga anemia pada neonatus jarang terjadi ; akan tetapi defisiensi zat besi
berat pada ibu dapat menyebabkan persalinan preterm, abortus, dan janin mati.
§ Leukosit
Terjadi kenaikan kadar leukosit selama kehamilan dari 7.109 / l dalam
keadaan tidak hamil menjadi 10.5.109 / l. Peningkatan ini hampir semuanya
disebabkan oleh peningkatan sel PMN – polimorfonuclear. Pada saat inpartu,
jumlah sel darah putih ininakan menjadi semakin meningkat lagi.
§ Trombosit
Pada
kehamilan terjadi thromobositopoeisis akibat kebutuhan yang meningkat.
Kadar
prostacyclin (PGI2) sebuah
“platelet aggregation inhibitor” dan Thromboxane
(A2) sebuah perangsang aggregasi platelet dan vasokonstriktor meningkat selama
kehamilan.
Nilai
rata – rata selama awal kehamilan adalah 275.000 / mm3 sampai 260.000 / mm3
pada minggu ke 35. Mean Platelet Size sedikit meningkat dan life span trombosit
lebih singkat.
§ Sistem Pembekuan
Darah
Kehamilan
disebut sebagai hipercoagulable state. Terjadi peningkatan kadar fibrinogen dan
faktor VII sampai X secara progresif.
Kadar
fibrinogen dari 1.5 – 4.5 g/L (tidak hamil) meningkat dan sampai akhir
kehamilan mencapai 4 – 6.5 g/L. Sintesa fibrinogen terus meningkat akibat
meningkatnya penggunaan dalam sirkulasi uteroplasenta atau sebagai akibat
tingginya kadar estrogen. Faktor II, V dan XI sampai XIII tidak berubah atau
justru malah semakin menurun.
Nampaknya
peningkatan resiko tromboemboli yang terkait dengan kehamilan lebih diakibatkan
oleh stasis vena dan kerusakan dinding pembuluh darah dibandingkan dengan
adanya perubahan faktor koagulasi itu sendiri.
SISTEM KARDIOVASKULER
· Volume Darah
Perubahan volume darah
tergantung pada beberapa faktor, misalnya kehilangan darah selama melahirkan
dan mobilisasi serta pengeluaran cairan ekstravaskuler (odema fisiologis).
Kehilangan darah merupakan akibat penurunan volume darah total yang cepat, tetapi
terbatas. Setelah itu terjadi perpindahan normal cairan tubuh yang menyebabkan
volume darah menurun dengan lambat. Pada minggu ke-3 dan 4 setelah bayi lahir,
volume darah biasanya menurun sampai mencapai volume sebelum hamil.
Hipervolemia yang diakibatkan
kehamilan (peningkatan sekurang-kurangnya 40% lebih dari volume tidak hamil)
menyebabkan kebanyakan ibu bisa menoleransi kehilangan darah saat melahirkan.
Banyak ibu kehilangan 300-400ml darah sewaktu melahirkan bayi tunggal per
vaginam atau sekitar dua kali lipat jumlah ini pada saat operasi caesaria.
Penyesuaian pembuluh darah
maternal setelah melahirkan berlangsung dramatis dan cepat. Respons wanita
dalam menghadapi kehilangan darah selama masa pascapartum dini berbeda dari
respon wanita tidak hamil. Tiga perubahan fisiologi pasca partum yang
melindungi wanita:
1.
Hilangnya sirkulasi
uteroplasma yang mengurangi ukuran pembuluh darah maternal 10-15%,
2.
Hilangnya fungsi endokrin
plasenta yang menghilangkan stimulus vasodilatasi, 3. Terjadinya mobilisasi air
ekstravaskular yang disimpan dalam wanita hamil. Oleh karena itu, syok
hipovolemik biasanya tidak terjadi pada kehilangan darah normal.
KOMPONEN DARAH
· Hematokrit dan Hemoglobin
Selama 72 jam pertama
setelah bayi lahir, volume plasma yang hilang lebih besar daripada sel darah
yang hilang. Penurunan volume plasma dan peningkatan sel darah merah dikaitkan
dengan peningkatan hematokrit pada hari ke-3 sampai hari ke-7 pasca partum.
Tidak ada SDM yang rusak selama masa pasca partum, tetapi semua kelebihan SDM akan
menurun secara bertahap sesuai dengan usia SDM. Waktu yang pasti kapan volume
SDM kembali ke nilai sebelum hamil tidak diketahui, tetapi volume ini berada
dalam batas normal saat dikaji 8 minggu setelah melahirkan.
· Sel Darah putih
Leukositosis normal pada
kehamilan rata-rata sekitar 12.000/mm3. Selama 10-12 hari pertama setelah bayi
lahir, nilai leukosit antara 20.000 dan 25.000/mm3 merupakan hal yang umum.
Neutrofil merupakan sel darah putih yang paling banyak. Keberadaan leukositosis
disertai peningkatan normal laju endap darah merah dapat membingungkan dalam
menegakkan diagnosis infeksi akut selama waktu ini.
· Faktor Koagulasi
Faktor-faktor pembekuan dan
fibrinogen biasanya meningkat selama masa hamil dan tetap meningkat pada awal
puerperium. Keadaan hiperkoagulasi, yang bisa diiringi kerusakan pembuluh darah
dan imobilitas, mengakibatkan peningkatan resiko tromboembolisme, terutama
setelah wanita melahirkan secara caesaria.aktivitas fibrinolitik juga meningkat
selama beberapa hari pertama setelah bayi lahir. Faktor I,II,VIII,IX, dan X
menurun dalam beberapa hari untuk mencapai kadar sebelum hamil. Produk
pemecahan fibrin, yang memungkinkan dilepaskan, dari bekas tempat plasenta juga
dapat ditemukan dalam darah maternal.
BAB III
KESIMPULAN
3.1 KESIMPULAN
Pada minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen
dan plasma
serta faktor-faktor
pembekuan
darah meningkat. Pada hari pertama post
partum, kadar fibrinogen dan plasma
akan sedikit menurun tetapi darah lebih mengental dengan peningkatan viskositas
sehingga meningkatkan faktor pembekuan
darah.
Leukositosis
adalah meningkatnya jumlah sel-sel
darah putih sebanyak 15.000 selama persalinan. Jumlah leukosit
akan tetap tinggi selama beberapa hari pertama masa post
partum. Jumlah sel darah putih akan tetap bisa naik lagi sampai
25.000 hingga 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita
tersebut mengalami persalinan lama.
Pada awal post
partum, jumlah hemoglobin, hematokrit
dan eritrosit
sangat bervariasi. Hal ini disebabkan volume
darah, volume plasenta dan tingkat volume
darah yang berubah-ubah. Tingkatan ini dipengaruhi oleh status gizi
dan hidarasi dari wanita tersebut. Jika hematokrit
pada hari pertama atau kedua lebih rendah dari titik 2 persen atau lebih tinggi
daripada saat memasuki persalinan awal, maka pasien dianggap telah
kehilangan darah
yang cukup banyak. Titik 2 persen kurang lebih sama dengan kehilangan darah
500 ml darah.
Penurunan volume dan
peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit
dan hemoglobin
pada hari ke 3-7 post partum dan akan normal
dalam 4-5 minggu post partum. Jumlah kehilangan darah
selama masa persalinan kurang lebih 200-500 ml, minggu
pertama post partum berkisar 500-800 ml dan selama sisa
masa nifas berkisar 500 ml.
DAFTAR PUSTAKA
Bobak, I.M , Lowdermilk, D.L et.all. 2004. Buku Ajar Keperawatan
Maternitas. Jakarta: EGC.