POLTEKKES KEMENKES MANADO
DIPLOMA III KEBIDANAN
Tugas dari Dr. Martha D. Korompis, S.Si.T, S.Pd., M.Kes.
“ASUHAN PADA
NEONATUS DENGAN KELAINAN BAWAAN DAN PENANGANANNYA”

KELOMPOK 4 :
Diana Febriana Mambo
Ekklesia Marlen Mamahani
Maslin Pogo
TINGKAT : II
A DIII KEBIDANAN
MK. : ASKEB.
NEONATUS, BBL, BAYI, BALITA, & AN.PRAS.
POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENKES MANADO
DIPLOMA III
KEBIDANAN
T/A : 2015 – 2016
KATA PENGANTAR
Segala Puji dan syukur kami
panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih karunia sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas tentang Asuhan pada Neonatus dengan Kelainan Bawaan dan Penanganannya ini dengan tepat waktu.
Kami berharap tugas ini
dapat berguna bagi semua pihak yang membaca baik untuk Dosen dalam proses
mengajar maupun Mahasiswa dalam proses belajar dan memahami materi-materi yang
ada.
Akhir kata, ada pepatah mengatakan “Jadilah
seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk” artinya banyak ilmu yang
kita miliki janganlah membuat kita sombong karena kesombongan akan merugikan
diri kita sendiri dan tetaplah berjuang untuk mencappai cita-cita karena masih
panjang perjalanan yang harus kita lalui.
Demikianlah makalah ini
dibuat, kami harapkan saran dan kritik apabila ada kesalahan dalam penulisan,
guna untuk memperbaiki agar lebih baik lagi kedepannya.
Manado, 13 Agustus 2015
Penulis:
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anak
merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan YME kepada setiap pasangan. Setiap
manusia/pasangan tentunya ingin mempunyai anak yang sempurna baik secara fisik
maupun psikis. Namun dalam kenyatanya masih banyak kira jumpai bayi dilahirkan
dengan keadaan cacat bawaan/kelainan kongenital.
Kelainan
kongenital yang cukup berat merupakan penyebab utama kematian bayi dalam
bulan-bulan pertama kehidupannya, hal ini seakan-akan merupakan suatu seleksi
alam terhadap kelangsungan hidup bayi yang dilahirkan.
Salah
satu sebab morbiditas pada bayi adalah meningokel, ensephalokel, hidrosephalus,
fimosis serta hipospadia. Sebagian besar penyakit bawaan pada bayi disebabkan
oleh kelainan genetik dan kebiasaan ibu pada saat hamil mengkonsumsi alkohol,
rokok dan narkotika.
Dari
uraian diatas diharapkan seorang bidan dapat melakukan penanganan secara
terpadu. Dari masalah yang ada diatas setidaknya dapat memberikan pertolongan
pertama serta dapat untuk menekan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi,
tetapi jika kondisi lebih parah kita harus melakukan rujukan.
Berdasarkan
hal-hal diatas, makalah yang berjudul “Asuhan pada Neonatus dengan Kelainan Bawaan dan Penanganannya” ini disusun untuk mengkaji lebih
jauh mengenai neonatus dengan kelainan kongenital serta penatalaksanaannya
sehingga sebagai seorang bidan kita mampu memberikan asuhan neonatus dengan
tujuan meminimalisir angka kematian dan kesakitan pada neonatus sehingga tugas
mutlak seorang bidan dapat terpenuhi dengan baik.
1.2 Tujuan
Adapun Tujuan dalam penulisaan makalah
ini, adalah sebagai berikut:
·
Untuk
mengetahui pengertian, penyebab serta diagnosis kelainan congenital
·
Untuk
mengetahui kelainan kongenital pada neonatus dan penatalaksanaannya
·
Untuk
mengetahui yang dimaksud dengan meningokel ensephalokel, hidrosephalus, fimosis
serta hipospadia
1.3 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah
ini, adalah sebagai berikut:
·
Apa
yang dimaksud dengan cacat bawaan/ kelainan congenital pada neonates? Serta
jelaskan penyebab kelainan, menentukan diagnosis kelainan, dan
penatalaksanaannya!
·
Apa
yang dimaksud dengan meningokel ensephalokel, hidrosephalus, fimosis, serta
hipospadia?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kelainan Kongenital
Kelainan
kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak
kehidupan hasil konsepsi sel telur. Kelainan kongenital dapat merupakan sebab
penting terjadinya abortus, lahir mati atau kematian segera setelah lahir.
Kematian bayi dalam bulan-bulan pertama kehidupannya sering diakibatkan oleh
kelainan kongenital yang cukup berat, hal ini seakan-akan merupakan suatu
seleksi alam terhadap kelangsungan hidup bayi yang dilahirkan. Bayi yang dilahirkan
dengan kelainan kongenital besar, umumnya akan dilahirkan sebagai bayi berat
lahir rendah bahkan sering pula sebagai bayi kecil untuk masa kehamilannya.
Bayi berat lahir rendah dengan kelainan kongenital berat, kira-kira 20%
meninggal dalam minggu pertama kehidupannya.
Di
samping pemeriksaan fisik, radiologik dan hboratorik untuk menegakkan diagnosis
kelainan kongenital setelah bayi lahir, dikenal pula adanya diagnosis
pre/ante-natal kelainan kongenital dengan beberapa cara pemeriksaan tertentu
misalnya pemeriksaan ultrasonografi, pemeriksaan air ketuban dan darah janin.
2.2 Jenis-jenis Kelainan Kongenital
A. Meningokel
Meningokel
merupakan penyakit kongenital dari kelainan embriologis yang disebut Neural Tube
Defect (NTD). Meningokel disebabkan oleh banyak faktor dan melibatkan banyak
gen (multifaktoral dan poligenik). Banyak sekali penetitian yang mengungkap
bahwa sekitar 70% kasus NTD dapat dicegah dengan suplementasi asam folat,
sehingga defisiensi asam folat dianggap sebagai salah satu faktor penting dalam
teratogenesis meningokel. Basis molekut defisiensi asam folat adalah kurang
adekuatnya enzim-enzim yang mentransfer gugus, karbon dalam proses metiiasi
protein dalam se1, baik dalam nukleus maupun mitokhondria, sehingga terjadi gangguan
biosintesis DNA dan RNA serta kenaikan kadar homosistein.
Defek
tulang pada meningokel secara embriologis terjadi akibat gangguan proses
neurulasi, yaitu tetap melekatnya ektoderm epidermis dengan ektoderm neural
sehingga migrasi sei-sel mesoderm pembentuk tulang ke tempat tersebut terhambat
dengan akibat di area itu tidak terbentuk tulang, (teori non separasi dari Stomberg).
Dalam proses ini, faktor pertumbuhan yang berfungsi memacu sintesis matriks
tulang mungkin juga berperan. Terdapat dua macam faktor pertumbuhan yang dimaksud
di atas yaitu TGF β (khususnya TGF, β1) dan IGF 1, yang dalam banyak penelitian
telah dibuktikan aksinya pada pembentukan tulang.
Penelitian
ini dilaksanakan untuk mengungkap korelasi defisiensi asam folat dengan kadar
TGF, βl dan TGF 1 dalam serum maupun dalam tulang, serta korelasi kadar kedua
faktor pertumbuhan tersebut dalam tulang kepala pasien meningokel dengan lebar
defek. Bila kedua hal-Iadi teiah terungkap, maka proses teratogenesis
meningokel menjadi lebih jelas. Penelitian ini menggunakan dua macam cara, sesuai
dengan hipotesis yang hendak diuji, yaitu metode eks perimental laboratoris
dengan hewan coba tikus dan metode observasional klinis pada pasien meningokel.
Derajat
defisiensi asam folat dikelompokkan dalam kategori berat dan ringan sesuai
dengan rangsum yang diberikan, yaitu rangsum sangat rendah folat dan rangsum
rendah folat, sedangkan untuk kontrol adalah rangsum cukup folat. Komposisi
rangsum dibuat sesuai dengan standar kandungan dan takaran purified diet yang
selama ini telah digunakan, meliputi : glukosa, selulosa, casein non vitamin,
sunflower oil, choline, mineral, vitamin tanpa folat dan trace element asam
folat dengan tiga takaran yang berbeda untuk setiap kelompok hewan coba,
diberikan lewat sonde oral. Enambelas minggu setelah pemberian diet, darah
hewan coba diambil untuk pemeriksaan kadar asam folat, TGF β1 dan IGF I, Hewan
kemudian dikawinkan, selelah janin lahir diambil tulang kepalanya untuk
pemeriksaan kadar TGF 01 dan IGF 1. Pada pasien meningokel sewaktu operasi
eksisi dengan metode standar, jaringan tulang tepi defek diambil sedikit untuk
pemeriksaan TGF R1 dan IGF I, dan lebar defek diukur dengan antropometer
Martin.
Dari
hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan terdapat
korelasi kadar-asam folat yang cukup kiuat dengan kadar TGF β1 dan IGF I, serta
jumlah sel apoptosis dan nekrosis; demikian juga dengan proses terbentuknya defek
tulang pada pasien meningokel. Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan
bagi ilmu pengetahuan tentang konsep baru terbentuknya defek tulang kepala pada
meningokel yang dikaitkan dengan defisiensi asam fofat. Penelitian ini juga
bermanfaat untuk memperluas aspek pencegahan bagi kasus meningokel dan kelainan
neural tube defect pada umumnya, serta aspek pengobatan terhadap kasus defek
tulang kepala, bahkan sejak pasien masih berada di dalam kandungan.
B. Ensefalokel
1. Defenisi
Ensefalokel adalah suatu kelainan
tabung saraf yang ditandai dengan adanya penonjolan meningens (selaput otak)
dan otak yang berbentuk seperti kantung melalui suatu lubang pada tulang
tengkorak. Ensefalokel disebabkan oleh kegagalan penutupan tabung saraf selama
perkembangan janin.
2. Gejala
Gejalanya berupa :
§
Hidrosefalus
§ Kelumpuhan keempat anggota gerak
(kuadriplegia spastik)
§ Gangguan perkembangan
§ Mikrosefalus
§ Gangguan penglihatan
§ Keterbelakangan mental dan
pertumbuhan
§ Ataksia
§ Kejang
Beberapa
anak memiliki kecerdasan yang normal. ensefalokel seringkali disertai dengan
kelainan kraniofasial atau kelainan otak lainnya.
3. Etiologi
Ada
beberapa dugaan penyebab penyakit itu diantaranya, infeksi, faktor usia ibu
yang tertaiu muda atau tua ketika hamil, mutasi genetik, serta pola makan yang
tidak tepat sehingga mengakibatkan kekurangan asam folat. Langkah selanjutnya,
sebelun hamil, ibu sangat disarankan mengonsumsi asam folat dalam jumlah cukup.
Pemeriksaan laboratorium juga diperlukan untuk mendeteksi ada-tidaknya infeksi.
4. Penatalaksanaan
Mencegah Ensefalokel
Bagi
ibu yang berencana hamil, ada baiknya mempersiapkan jauh jauh hari. Misalnya, mengonsumsi
makanan bergizi serta menambah suplemen yang mengandung asam folat. Hal itu
dilakukan untuk mencegah terjadinya beberapa kelainan yang bisa menyerang bayi_
Salah satunya, encephalocele atau ensefalokel. Biasanya dilakukan pembedahan
untuk mengembalikan jaringan otak yang menonjol ke dalam tulang tengkorak,
membuang kantung dan memperbaiki kelainan kraniofasial yang terjadi. Untuk
hidrosefalus mungkin perlu dibuat suatu shunt. pengobatan lainnya bersifat,
simtomatis dan suportif. Prognosisnya tergantung kepada jaringan otak yang
terkena, lokasi kantung dan kelainan otak yang menyertainya.
C. Hidrosefalus
1. Defenisi
Hidrosefalus (kepala air, istilah
yang berasal dari bahasa Yunani: "hydro" yang berarti air dan
"cephalus" yang berarti kepala; sehingga kondisi ini sering dikenal
dengati "kepala air") adalab penyakit yang terjadi akibat gangguan
aliran cairan di dalam otak (cairan serebro spinal). Gangguan itu menyebabkan
cairan tersebut bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di
sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital.
Hidrosefalus adalah keadaan dimana
terjadi akumulasi CSS yang berlebihan pada satu atau lebih ventrikel dan ruang
subarakhnoid. Bila akumulasi CSS yang berlebihan terjadi diatas hemisfer
serebral, keadaan ini disebut higroma subdural atau koleksi cairan subdural.
Pada kasus akurnulasi cairan yang berlebihan terjadi pada sistema ventrikuler,
keadaan ini disebut sebagai hidrosefalus internal.
Peninggian TIK harus dibedakan dari
peninggian tekanati intraventrikuler. Beberapa lesi intrakranial menyebabkan
peninggian TIK, namun tidak perlu menyebabkan hidrosefalus. Peningaian volume
CSS tidak ekivalen dengan hidrosefalus; ini juga terjadi pada atrofi serebral.
Juga, dilatasi ventrikuler tidak selalu berarti hidrosefalus dan juga tampak
pada atrofi serebral. Hidrosefalus adalah kesatuan klinix yang dibedakan oleh
tiga faktor: (1) peninggian tekanan intraventrikuler, (2) penambahan volume CSS,
dan (3) dilatasi rongga CSS.
Hidrosefalus internal menyebabkan
peninggian tekanan intraventrikuler dan pembesaran sistem ventrikuler. Mantel
serebral terregang dan menipis. Sentrum oval, talamus dan ganglia basal
tertekan. Akson kortiko spinal dan kortikotalamik tertekan dan terregang, serta
mielinasinya terganggu. Giri hemisfer serebral mendatar, dan vaskulatur
serebral terregang. Septum pelusidum menjadi tipis, seperti juga vault dan
dasar tengkorak. Rongga subarakhnoid serta sistemnya diluar hemisfer serebral
berdilatasi, umumnya dengan tidak mengindahkan jenis dari hidrosefalus.
Nekrosis subependimal serta edema dkibat pendataran dan robeknya lapisan
ependimal serta pembesaran ruang ekstraseluler, dapat dilihat pada mikroskop
elektron.
Secara klinis peninggian tekanan
intraventrikuler, voiutue CSS, dan ukuran ventrikel menimbulkan kelainan
berikut: pembesaran kepala, penonjolan fontanel, separasi sutura, tanda Mac
Ewen positif, fenomena setting sun, scalp yang mengkilap, dilatasi vena scalp,
strabismus konvergen atau divergen, tangis yang hight pitched, postur
opistotonik, dan kegagalan untuk berkembang. Gejala klinik ini biasanya tampak
pada hidrosafalus progresif cepat. Mereka dapat terjadi bersamaan atau
bergantian. Pada kebanyakan hidrosefalus dini atau ringan, hanay perubahan
ringan pad sutura, fontanel, sclap, dan gerak bola mata yang dijumpai. Pada
hidrosefalus, yang berkembang lambat, gejala mungkin tidak tampil hingga pasien
mulai berjalan., dimana keadaan ini dibutikan dengan langkah berdasar-lebar,
para paresis, hermianopia, bitemporal, dan retardasi mental.
Pada hidrosefalus infantil,
hidrosefalus primer atau idiopatik sangat lebih banyak dari hidrosefalus
sekunder. Gejala mungkin tampak dini pada kehidupan intrauterine atau
terlambat, beberapa bulan setelah lahir. Gejala mungkin tampak tiba-tiba
(hidrosefalus akuta) atau perlahan-lahan (hidrosefalus kronika). Insiden
hidrosefalus kongenital sekitar delapan per 10.000 kelahiran.
Hidrosefalus terjadi pada tiga per
100 anak yang lahir dari orangtua yang memiliki anak mielomeningosel. Penyebab
hidrosefalus kongenital pada kebanyakan kasus tidak diketahui (hidrosefalus
idiopatik). Kekecualian hanya pada hidrosefalus herediter yang sex linked,
disebabkan oleh stenosis akuaduktal. Jenis hidrosefalus ini merupakan kurang
dari tiga persen dari hidrosefalus kongenital.
Hidrosefalus sekunder sering
disebabkan oleh kelainan berikut: (1) hematoma subdural, (2) tumor
intraventrikuler, (3) tumor para sellar, (4) tumor fossa posterior, (5) cedera
kranioserebral, (6) infeksi leptomeningeal, ('7) perdarahan subarakhnoid, (8)
karsinomatosis atau sarkomatosis mening, dan (9) toksoplasmosis.
2. Diagnosis Hidrosefalus
PENYEBAB OBSTRUKSI
Kebanyakan hidrosefalus kongenital
adalah hidrosefalus primer atau idiopatik. :iidroseiaius mungkin disebabkan
lesi massa yang tak terperkirakan, seperti tumor dan kista. Karenanya harus
hati-hati untuk tidak sa-ja rnenentukan tempat obstruksi, namun juga untuk
menentukan panyebab ubstruksi dalam tnendiaynosls hidrofefalus.
Hipersekresi CSS diketahui sebagai
penyebab hidrofefalus pada papiloma pelksus khoroid, namun perdarahan perlahan
berkala juga dipikir sebagai kemungkinan mekanisme obstruksi daerah absrobsi.
CT scan secara tepat menggambarkan
struktur intrakranial terutama ruang CSS dan tidak mungkin dihindarkan untuk
mendiagnosis hidrosefalus. Penilaian tempat obstruksi dengan CT scan transisi
dari ruang CSS yang berdilatasi dan tidak. Kebanyakan kasus hidrosefalus
disebabkan oleh obstruksi jalur CSS (hidrosefalus obstruktiva) . ada dua jenis
obstruksi jalur CSS: obstruksi intraventrikuler atau non komunikans
(hidrosefalus obstruktif intraventikuler nonkominukans) dan obstruksi ekstra
ventrikuler (hidrosefalus obstruktif ekstraventikuler kominikans). Secara umum
dilatasi ventrikuler lebih jelas pada obstruksi intraventrikuler dibanding
obstruksi ekstraventrikuler.
Kebanyakan keadaan berikut adalah
didapat disanping kongenitas, namun pengetahuan mengenainya diperlukan untuk
mengerti sepenuhnya tentang hidrosefalus. Pada banyak kasus bentuk dapat
dikenal dan bentuk kongenital karenanya yang biasa bersamaan dengan
hidrosefalus diantaranya porensefali, agenesis korpus kalosum, displasia lobar,
hidranensefali, displasia tentorial, malformasi Chiari, sista Dandy-Walker,
holoprosensefali, sista arakhnoid, dan aneurisma vena Ga1en.
HIDROSEFALUS OBSTRUKTIVA INTRAVENTRIKUIER
Pada dilatasi monoventrikuler,
obstruksi foramina' Monro (atresia satu foramina Monro) berakibat dilatasi
unilateral dari ventrikel lateral pada sisi yang obstruksi dan menyebabkan
hidrosefalus unilateral atau asimetrikal. Bila terjadi dilatasi biventrikuler,
obstruksi ke ventrikel ketiga menyebabkan dua foramina Monro atau hidrosefalus
simetrikal.
Pada dilatasi triventrikuler,
obstruksi akuaduktus (stenosis akuaduktus) menyebabkan dilatasi ventrikel
lateral dan ventrikel ketiga. Ventrikel keempat biasanya normal dalam ukuran
dan lokasinya.
Pada dilatasi tetraventrikuler, atau
panventrikuler, obstruksi outlet ventrikel keempat (atresia foramina Luschka
dan Magendie) menyebabkan dilatasi semua bagian sistema ventrikuler, terutama
ventrikel keempat (transformasi sistik ventrikel keempat, atau sista
Dandy-Walker)
HIDROSEFALUS OBSTRUKTIVA
EKSTRAVENTRIKULER
Obstruksi ekstraventrikuler biasanya
menyebabkan dilatasi sistem ventrikuler dan rongga subarakhnoid proksimal dari
daerah obstruksi. Jenis umum obstruksi ini adalah blok insisural, blok sisterna
basal, blok konveksitas, dan blok ruang CSS distal. Blok granulasi arakhrroid
mungkin berakibat dilatasi semua rongga CS
HIDROSEFALUS KONSTRIKTIVA
Pada malformasi Chiari jenis II,
yang tampak pada pasien dengan rnielomeningosel, hindbrain yang ter_qeser
kebawah rnungkin tertambat pada sambungan kraniovertebral dan fossa posterior
yang kecil mur?gkin nengalarni obstruksi secara anatomi. Konsekuensinya,
hidrosefalus mungkin terjadi karena gangquan sirkulasi CSS sekitar hindbrain.
Pada keadaan ini ventrikel keempat memperlihatkan peryasaran kebawah dan tak
dapat diidentifikasi pada posisi normal. Ventrikel keempat sering ditemukan
dalam kanal servikal.
PROGNOSIS PIDROSEFALUS KONGENITAL
Keberhasilar, tindakan operatif
serta prognosis hidrosefalus diter.tukan oleh ada atau tidaknya anomali yang
menyertai. Hidrosefalus simpel, dimana tidak ada ma1formasi lain yang
menyertai, mempunyai prognosis lebih baik dari hidrosefalus yang bersama dengan
malformasi lain (hidrosefalus komplikata) .
Prognosis hidrosefalus komplikata ditentukan oleh jenis da:1
uerajat anomali yang menyertai. Diagnosis spesifik anomali tertentu yang
bersamaan denqan hidro sefalus diperlukan untuk menentukan prognosis.
D. Fimosis
1. Definisi
Fimosis
merupakan pengkerutan atau penciutan kulit depan penis. Fimosis merupakan suatu
keadaan normal yang sering ditemukan pada bayi baru lahir atau anak kecit, dan
biasanya pada masa pubertas akan menghilang dengan sendirinya.
Pada
pria yang lebih tua, fimosis bisa terjadi akibat iritasi menzhun. Fimosis bisa
mempengaruhi proses berkemih dan aktivitas seksual. Biasanya keadaan ini
diatasi dengan melakukan penyunatan (sirkumsisi).
Fimosis
adalah penyempitan pada prepusium. Kelainan ini juga menyebabkan bayi/anak
sukar berkemih. Kadang-kadang begitu sukar sehingga kulit prepusium
menggelembung seperti balon. Bayi/anak sering menangis keras sebelum urine
keluar. Keadaan demikian lebih baik segera disunat, tetapi kadang orang tua
tidak tega karena bayi masih kecil. Untuk menolongnya dapat dicoba dengan
melebarkan lubang prepusium dengar, cara mendorong ke belakang kulit prepusium
tersebut dan biasanyaa akan terjadi luka.
Untuk
mencegah infeksi dan agar luka tidak merapat lagi pada luka tersebut dioleskan
salep antibiotik. Tindakan ini mula-mula dilakukan oleh dokter. Selanjutrnya di
rumah orang tua sendiri diminta tnelakukannya seperti y•ang dilakukan dokter
(pada orang Barat, sunat dilakukan pada seorangbayi laki-laki ketika masih
dirawat/ ketika baru lahir. Tindakan ini dimaksudkan untuk kebersihan/mencegah
infeksi karena adanya smegma, bukan karena keagamaan).
Adanya
smegma pada ujung prepusium juga menyulitkan bayi berkemih maka setiap
memandikan bayi hendaknya prepusium didorong ke belakang kemudian ujungnya
dibersihkan dengan kapas yang telah dijerang dengan air matang.
2. Etiologi
Fimosis
pada bayi laki-laki yang barn lahir terjadi karena ruang di antara kutup dan
penis tidak berkembang dengan baik. Kondisi ini menyebabkan kulup menjadi
melekat pada kepala penis, sehingga sulit ditarik ke arah pangkal. Penyebabnya
bisa dari bawaan dari lahir, atau didapat, misalnya karena infeksi atau
benturan. Bagaimana gejalanya? Untuk menandai apakah anak memang mengalami
funosis, orang tua sebaiknya mencermati beberapa gejala berikut : Kulit penis
anak tak bisa ditarik ke arah pangkal ketika akan dibersihkan. Anak mengejan
saat buang air kecil karena muara saluran kencing diujung tertutup. Biasanya ia
menangis dan pada ujung penisnya tampak menggembung. Air seni yang tidak
lancar, kadang-kadang menetes dan memancar dengan arah yang tidak dapat diduga.
Kalau sampai timbul infeksi, maka si buyung akan mengangis setiap buang air
kecil dan dapat pula disertai demam.
Jika
gejala-gejala di atas ditemukan pada anak, sebaiknya bawa ia ke dokter. Jangan
sekali-kali mencoba membuka kulup secara paksa dengan menariknya ke pangkal
penis. Tindakan ini berbahaya, karena kulup yang ditarik ke pangkal dapat
menjepit batang penis dan menimbulkan rasa nyeri dan pembekakan yang hebat. Hal
ini dalam istilah kedokteran disebut para Fimosis. Jika si Buyung mengalami
kesulitan buang air kecil, dokter akan mencoba melebarkan kulit yang melekat,
namun hal ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati oleh seorang dokter yang
berpengalaman.
Jika
upaya ini gagal, maka tindakan sirkumsisi (sunat) adalah jaian keluarnya,
apalagi jika fimosisnya menetap dan terjadi infeksi. Untuk melakukan sirkumsisi
pada anak juga harus dipertimbangkan masalah pembiusannya karena jika si Buyung
takut dan merasa sakit maka hal ini akan mempengaruhi kondisi kejiwaannya kelak
kemudian hari. Selain itu jika si Buyung meronta-ronta karena taku[ atau sakit,
mal:a tindakan sirkumsisi ini malah akan membahayakan, karena dapat melukai
penisnya dan jahitan kulit penis tidak dapat dikerjakan secara sempurna
(info-sehat.com)
3. Penatalaksanaan
Fimosis
didapat (fimosis patologik, fimosis yang sebenarnya, true phimosis) timbu!
kemudian setelah lahir. Hal ini berkaitan dengan kebersihan (higiene) alat
kelamin yang buruk, peradangan kronik gtans penis dan kulit preputium
(balanoposthitis kronik), atau penarikan berlebihan kulit preputium (forceful
retraction) pada fimosis kongenital yang akan menyebabkan pembentukkan jaringan
ikat (fibrosis) dekat bagian kulit preputiurn yang membuka.
Fimosis
kongenital seringkali menimbulkan fenomena ballooning, yakni kulit preputium
mengembang saat berkemih karena desakan pancaran air seni tidak diimbangi
besarnya tubang di ujung preputium. Fenomena ini akan hilang dengan sendirinya,
dan tanpa adanya fimosis patologik, tidak selalu menunjukkan adanya hambatan
(obstruks) air seni. Selama tidak terdapat hambatan aliran air seni, buang air
kecil berdarah (hematuria), atau nyeri preputium, fimosis bukan merupakan kasus
gawat darurat.
Fimosis
kongenital seyogyanya dibiarkan saja, kecuali bila terdapat alasan agama
dan/atau sosial untuk disirkumsisi. Hanva diperlukan penjelasan dan pengertian
mengenai fimosis kongenital yang memang normal dan lazim terjadi pada masa
kanak-kanak serta menjaga kebersihan alat kelamin dengan secara rutin
membersihkannya tanpa penarikan kulit preputium secara berlebihan ke belakang
batang penis dan mengembalikan kembali kulit preputium ke depan batang penis
setiap selesai membersihkan.
Upaya
untuk membersihkan alat kelamin dengan menarik kulit preputium secara
berlebihan ke belakang sangat berbahaya karena dapat menyebabkan luka, fimosis
didapat, bahkan parafimosis. Seiring dengan berjalannya waktu, perlekatan
antara lapis bagian dalam kulit preputium dan glans penis akan lepas dengan
sendirinya. Walaupun demikian, jika fimosis menyebabkan hambatan aliran air
seni, dipertukan tindakan sirkumsisi (membuang sebagian atau seluruh bagian
kulit preputium) atau teknik bedah plastlk lainnya seperti preputioplasty
(memperlebar bukaan kulit preputiurn tanpa memotongnya). Indikasi medis utama
dilakukannya tindakan siricumsisi pada anak-anak adalah fimosis patotogik.
Penggunaan
krim steroid topikal yang dioleskan pada kutit preputium 1 atau 2 kali sehari,
selama 4-5 minggu, juga efektif dalam tatalaksana fimosis. Namun jika fimosis
telah membaik, kebersihan atat ketamin tetap dijaga, kulit preputium harus
ditarik dan dikembalikan lagi ke posisi semula pada saat mandi dan setelah
berkemih untuk mencegah kekambuhan fimosis.
E. Hipospadia
1. Definisi
Hipospadia
adalah salah satu kelainan bawaan pada anak-anak yang sering ditemukan dan
mudah untuk mendiagnosanya, hanya pengolahannya harus dilakukan oleh mereka
yang betul-beul ahli supaya mendapatkan hasil yang memuaskan.
Hipospadia
merupakan kelainan kelamian bawaan sejak lahir, cirinya, letak lubang uretra
terdapat di penis bagian bawah, bukan di ujung penis. Menurut dokter bedah
urologi RSU Dr Kariadi, dr Andi, S. SpBU, berat hipospadia bervarian,
kebanyakan lubang uretra terletak di dekat ujung penis, yaitu pada glans penis.
Bentuk
hipospadia yang lebih berat terjadi jika lubang uretra terdapat di tengah
bantang penis atau pada pangkal penis dan kadang pad skrotum (kantung zakar)
atau di bawah skrotum. Kelainan ini sering kali berhubungan dengan kardi, yaitu
suatu jaringan fibrosa yang kencang yang menyebabkan penis melengkung ke bawah
pada saat ereksi.
Pada
hipospadia muara orifisium uretra eksterna (lubang tempat air seni keluar)
berada diproksimal dari normalnya yaitu pada ujung distal glans penis,
sepanjang ventral batang penis sampai perineum. Jadi lubang saluran kencing
letaknya bukan pada tempat yang semestinya dan terletak di sebelah bawah penis
bahkan ada yang terletak di rentang kemaluan.
Hipospadia sering disertai kelainan bawaan yang lain, misalnya pada scrotum dapat berupa undescensus testis, meorchisdism, disgenesis testis dan hidrotole pada penis berupa propenil scrotum mikrophalasus dari torsi penile. Sedang kelainan ginjal dan ureter berupa fused kidney, malrotasi, duplek dan refluk ureter.
Hipospadia sering disertai kelainan bawaan yang lain, misalnya pada scrotum dapat berupa undescensus testis, meorchisdism, disgenesis testis dan hidrotole pada penis berupa propenil scrotum mikrophalasus dari torsi penile. Sedang kelainan ginjal dan ureter berupa fused kidney, malrotasi, duplek dan refluk ureter.
2. Etiologi
Trend
peningkatan jumlah penderita salah satunya disebabkan faktor lingkungan dan
pola hidup yang kurang sehat, akibatnya marak penggunaan pestisida serta
tinginya kandungan polusi di udara. Zat polutan dari pabrik, limbah dan
menumpuknya sampah bisa menimbulkan hipospadia.
Dari
beberapa pasien yang ditangani ternyata mereka tinggal disekitar daerah
pembuangan sampah. Ada pula yang berasal ari keluarga petani. Penderita
hipospadia umumnya berasal dari keluarga kurang mampu. Akibatnya banyak
diantara penderita tak bisa segera ditangani.
Angka
kejadian penderita hipospadia di Indonesia belum diketahui secara pasti, tetapi
dari hasil penelitian pakar kedokteran di sejumlah negara, kelainan ini terjadi
pada satu dari 125 bayi laki-laki kelahiran hidup. Salah satu penyebab kelainan
ini adalah karena keturunan.
3. Penatalaksanaan
Tindakan
operasi harus dilakukan sebelum anak memasuki usia sekolah, diharapkan anak
tidak malu dengan keadaanya setelah tahu bahwa anak laki-laki lain kalau BAK
beriri sedangkan anak pengidap hipospadia harus jongkok seperti anak perempuan
(karena lubang penisnya berada di bagian bawah penis).
Selain
itu jika hipospadia tidk dioperasi maka setelah dewasa dia akan sulit untuk
melakukan penetrasi/coitus , selain penis tidak dapat tegak dan lurus (pada
hipospadia penis bengkok akibat adanya chordae), lubangkeluar sperma terletak
di bagian bawah.
Operasi
hiposdia satu tahap (one stage urethra plasty) adalah tehnik operasi sederhana
yang sering dapat digunakan terutama untuk hipospadia tipe distal. Tipe distal
ini yang meatusnya letak anterior atau di middle. Meskipun hasilnya sering
kurang begitu bagus untukkelainan yang berat sehingga banyak dokter lebih
memilih untuk melakukan 2 tahap untuk tipe hipospadia proksimal yang disertai
dengan kelainan yang jauh lebih berat maka one stage uretroplasty nyaris tidak
dapat dilakukan.
Tipe
hipospadia yang sering kali diikuti dengan kelainn-kelainan yang berat seperti
korda yang berat, globuler glans ygbengkok kearah ventral (bawah) dengan dorsal
skinhood dan propenil bifid scrotum. Intinya tipe hipospadi yang letak lubang
air seninya lebih kearah proksimal (jauh dari tempat semestinya) biasanya
diikuti dengan penis yang bengkok dan kelainan lain diskrotum atau sisa kulit
yang sulit ditarik pada sat dilakukan operasi pembuatan uretra.
Kelainan seperti ini biasanya harus dilakukan
dengan 2 tahap yaitu:
Tahap 1 : Dilakukan untuk meluruskan
penis supaya posisi meatus (lubang tempat keluar kencing) nantinya letaknya
lebih proksimal (lebih mendekatiletak yang normal), memobilisasi kulit dan
prepurium untuk menutup bagian ventral/bawah penis.
Tahap 2 : Dilakukan urethroplasty
(pembuatan uretra) sesudah 6 bulan.
Tujuan
utama penanganan operasi hipospadia adalah merekonstruksi penismenjadi lurus
dengan meatus uretra ditempat yang normal atau dekat normal sehingga aliran
kencing arahnya kedepan dan dapat melakukan koitus dengan normal, prosedur
operasi satutahap pada usia yang dini dengan komplikasi yang minimal.
Penyempurnaan tehnik operasi danperawatan paska operasi menjadi prioritas
utama.
Setelah
operasi biasanya pad lubang kencingbaru (post uretroplasty) masih dilindungi
dengan kateter sampai luka betul-betul menyembuh dan dapat dialiri air seni. Di
bagian supra pubik (bawah perut) dipasang juga kateter yang langsung menuju
kandung kemih untuk mengalirkan air seni. Tahap penyembuhan biasanya kateter
diatas di non fungsikan terlebih dahulu sampai seorang dokter yakin betul bahwa
hasil urethroplasty nya dapat difungsikan dengan baik, baru setelah itu kateter
di lepas.
Komplikasi paska operasi yang
terjadi:
1) Edema/pembengkakan yang terjadi
akibat reaksi jaringan, besarnya bervariasi, juga terbentuknya hematom/kumpulan
darah dibawah kulit yang biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2-3 hari
pasca operasi.
2) Fitula uretrokutan, merupakan
komplikasi yang tersering dan ini digunakan sebagai parameter untuk menilai
keberhasilan operasi.
3) Striktur, pada proksimal
anastomosis, yang kemungkinan disebabkan oleh argulasi dari anestomosis.
4) Divertikulum, terjadi pembentukan
neuretra yang terlalu lebar, atau adanya srenosis meatal yang mengakibatkan
dilatasi yang lanjut.
5) Residual chordae/rekuren (hordoe,
akibat dari rilis korde yang tidak sempurna, diman tidak melakukan ereksi
artificial saat operasi atau pembentukan skor yang berlebihan di ventral penis
walaupun sangat jarang
6) Rambut dalam uretra, yang dapat
mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang/pembentukan batu saat pubertas.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Kelainan
kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak
kehidupan hasil konsepsi telur. Hal ini menunjukkan bahwa kelainan kongenital
terjadi pada awal konsepsi. Hal ini terjadi karena faktor lingkungan dan
genetic atau kedua faktor secara bersamaan. Jadi kelainan kongenital dapat
diantisipasi pada saat ibu sebelum dan ketika hamil dengan cara makan-makanan
yang bergizi, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Wiknjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan.Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. EGC : Jakarta
Haws, Paulette S. 2008. Asuhan Neonatus Rujukan Cepat. EGC : Jakarta
smoga berguna ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar