Kamis, 06 Agustus 2015

Perubahan Adaptasi Psikologis dalam Masa Kehamilan



MAKALAH
“Perubahan Adaptasi Psikologis dalam Masa Kehamilan”



KELOMPOK  IV:
Dewi Nurwenda Sari Wahid
Diana Febriani Mambo
Firna Potabuga
Harina Arsyad


Tingkat : II A D.III Kebidanan
MK : ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN




POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MANADO
DIPLOMA III KEBIDANAN
T/A : 2015 – 2016





 

 

Perubahan Adaptasi Psikologis dalam Masa Kehamilan


            Konsepsi dan implantasi (nidasi) sebagai titik awal kehamilan yang ditandai dengan keterlambatan dating bulan dapat menimbulkan perubahan baik rohani maupun jasmani. Bagi pasangan dengan perkawinan yang didasari dengan “cinta” keterlambatan dating bulan merupakan salah satu hal yang menggembirakan, karena ini merupakan hasil cinta dan akan membuat semakin kokohnya hubungan mereka dengan kehamilan yang didambakan. Keinginan untuk memastikan kehamilan makin mendesak, dan akan segera melakukan pemeriksaan terutama keluarga yang telah lama mendambakan keturunan. Setelah terbukti hamil, pasangan gembira dan cinta semakin bertambah, yang menjiwai suasana keluarga tetapi kebahagiaan tersebut kadang diikuti perasaan cemas, karena ketakutan pada kemungkinan keguguran.
            Bagi pasangan yang kehamilannya tidak dikehendaki, akan muncul kegelisahan dan kecewa serta berusaha menghilangkan buah kehamilannya dengan cara apapun. Pada keadaan seperti ini, peran bidan atau tenaga kesehatan sangat diperlukan dalam memberikan komunikasi, informasi, dan edukasi serta konseling. Hal ini dikarenakan sebab kehamilan bukanlah proses biologis semata, tetapi lebih dari sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa. Tindakan apapun yang dilakukan dengan tujuan menghilangkan kehamilan adalah pembunuhan. Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila tidak membenarkan tindakan “aborsi” dan ini didukung oleh undang-undang kesehatan Indonesia yaitu undang-undang No. 23 Tahun 1992 terutama tercantum dalam pasal 15. Selain itu secara agama melakukan aborsi ini adalah termasuk dosa besar.
            Periode syok dan menyangkal kehamilan kemudian kebingungan dan preoccupation dengan berbagai masalah yang diperkirakan penyebabnya, terdiri dari 3 faktor yaitu (1) persepsi terhadap kejadian (2) dukungan situasional (3) mekanisme coping. Proses psikologis ini sering terlihat berhubungan dengan perubahan biologic yang mengambil peran dalam tiap tahapan kehamilan.
Untuk lebih memahami perubahan dan adaptasi psikologis pada ibu hamil akan dibahas lebih rinci pada setiap trimester dalam uraian berikut ini:

1.      Trimester I

Trimester pertama sering dikatakan sebagai masa penentuan untuk membuktikan bahwa wanita dalam keadaan hamil. Pada saat inilah tugas psikologis pertama sebagai calon ibu untuk dapat menerima kenyataan atas kehamilannya.
Selain itu, akibat dari dampak terjadinya peningkatan hormone esterogen dan progesterone pada tubuh ibu hamil akan mempengaruhi perubahan pada fisik sehingga banyak ibu hamil yang merasakan kekecewaan, penolakan, kecemasan dan kesedihan.
Perasaan bingung yang dialami ibu hamil tersebut secara normal akan berakhir spontan pada saat dia menerima kehamilannya. Penerimaan ini biasanya terjadi pada akhir trimester pertama dan didukung oleh perasaannya yang cukup aman untuk mengungkapkan perasaannya terhadap konflik yang dialami selama ini. Trimester pertama juga sering merupakan masa kekhawatiran dari penantian kehamilan menjadi aman. Teruama pada wanita yang pernah mengalami keguguran sebelumnya dan tenaga profesional dalam bidang pelayanan kesehatan wanita yang khawatir terhadap keguguran dan teratogen. Wanita ini tidak sabar menunggu trimester pertama sampai mereka dapat tenang dan percaya dengan kehamilannya.
Pada trimester pertama seorang ibu akan selalu mencari tanda-tanda untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya memang hamil. Setiap perubahan pada dirinya akan selalu diamati dengan seksama. Karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seorang ibu yang dapat diberitahukannya kepada orang lain atau mungkin dirahasiakannya.
Bertambahnya berat badan adalah bagian yang signifikan pada wanita hamil selam trimester pertama. Ini menjadi bagian uji nyata yang dilakukan wanita seperti yang terlihat pada tubuhnya jelas bahwa ia hamil. Bagi kebanyakan wanita, betambahnya berat badan malah dijadikan bukti awal berkembangnya bayi meskipun sebenarnya bukanlah kejadian secara fisik. Wanita yang terlihat bertambah berat badannya berperan pada perlindungan dan pertumbuhan abdomennya, yang berarti hamil baginya. Dan sebaliknya, bagi wanita yang hamil dan ingin menyembunyikannya bias mencegah mereka untuk menunjukkan dan mencoba untuk mengatasi masalahnya.
Hasrat untuk melakukan hubungan seks, pada trimester pertama berbeda-beda. Walaupun beberapa wanita mengalami gairah seks yang lebih tinggi, kebanyakan mereka mengalami penurunan libido selama periode ini. Ekspresi seksual selam hamil bersifat individual. Beberapa pasangan menyatakan puas dengan hubungan seksual mereka, sedang yang lain mengatakan sebaliknya.
Semua keadaan diatas membutuhkan komunikasi dengan suami secara terbuka dan jujur. Banyak wanita merasa butuh untuk dicintai dan merasakan kuat untuk mencintai namun tanpa berhubungan seks. Libido sangan dipengaruhi kelelahan, rasa mual, pembesaran payudara, keprihatinan, dan kekhawatiran. Semua ini merupakan bagian normal dari proses kehamilan pada trimester pertama.

Contoh Kasus

Ibu Farida dating ke klinik untuk memeriksakan kehamilannya. Dalam anamneses yang dilakukan ibu farida menyatakan bahwa kehamilannya ini sudah direncanakan, tetapi ibu Farida kelihatannya tidak peduli pada kehamilannya dan tidak pernah mengajukan pertanyaan tentang bayinya. Ibu mengatakan bahwa merasa lelah dan mual serta tidak ingin hamil untuk saat sekarang.
Dalam kasus ini si ibu nampaknya menolak kehamilannya. Dia sedih dan kecewa walaupun kehamilannya direncanakan. Dalam kasus diatas apa yang dirasakan ibu ini adalah sesuatu yang sangat normal, hal ini dapat terjadi pada sebagian besar wanita yang akan merasakan hal yang serupa pada umur kehamilan seperti ini.

2.      Trimester II

            Trimester kedua sering disebut sebagai periode pancaran kesehatan, saat ibu merasa sehat. Ini disebabkan selama trimester ini umumnya wanita sudah merasa baik dan terbebas dari ketidaknyamanan kehamilan. Tubuh ibu sudah terbiasa dengan kadar hormone yang lebih tinggi dan rasa tidak nyaman karena hamil sudah berkurang. Perut ibu belum terlalu besar sehingga belum dirasakan sebagai beban. Ibu sudah menerima kehamilannya dan mulai dapat menggunakan energy dan pikirannya secara lebih konstruktif. Pada trimester ini pula ibu dapat merasakan gerakan bayinya, dan ibu mulai merasakan kehadiran bayinya sebagai seseorang di luar dari dirinya sendiri. Banyak ibu yang merasa terlepas dari rasa kecemasan dan rasa tidak nyaman seperti yang di rasakannya pada trimester pertama dan merasakan meningkatnya libido.
            Trimester kedua di bagi menjadi dua fase yaitu prequickening dan postquickening Akhir dari trimester pertama dan selama prequickening dalam trimester kedua, wanita tersebut akan terus melengkapi dan mengevaluasi segala aspek yang menghubungkannya dengan ibunya sendiri. Semua masalah pribadi dengan ibunya yang telah atau sedang terjadi dianalisis. Kemampuan untuk dapat mempertahankan hubungan ibu dan anak di uji. Dengan pengujian ini mendatangkan pengertian dan kriteria penerimaan oleh ibunya yang ia hargai dan hormati.
            Hubungan sosial wanita akan meningkat dengan wanita hamil lainnya atau yang baru menjadi ibu, ketertarikan dan aktivitasnya terfokus pada kehamilan, kelahiran dan persiapan untuk peran yang baru. Hubungan sosial yang rumit ini membutuhkan sejumlah pekerjaan yang rumit, yang pada gilirannya akan bertindak sebagai katalis bagi peran barunya.
            Quickening mungkin menyerang wanita untuk memikirkan bayinya sebagai individu yang merupakan bagian dari dirinya. Kesadaran yang baru ini memulai perubahan dalam memusatkan dirinya ke bayi. Pada saat ini, jenis kelamin bayi tidak begitu penting. Perhatian di tujukan pada kesehatan bayi dan kehadiran di dalam keluarga.
            Ketika janin menjadi semakin jelas, yang terlihat dengan adanya gerakan dan denyut jantung, kecemasan orang tua yang terutama ialah kemungkinan cacat pada anaknya. Orang tua mungkin akan membicarakan rasa cemasnya ini secara terbuka dan berusaha memperoleh kepastian bahwa anaknya dalam keadaan sempurna. Pada tahap lanjut kehamilan, rasa takut bahwa anaknya dapat meninggal semakin melemah.

Contoh Kasus

            Ibu Shanty datang ke klinik untuk memeriksakan kehamilannya. Dalam anamnesa Anda memperhatikan bu Shanty begitu gembira dan aktif bicara. Ia mengatakan bahwa rasa mual di waktu pagi dan kelelahannya dapat di atasi. Ia sangat senang merasakan gerak bayi untuk pertama kali. Ia menceritakan kepada anak-anaknya yang lain mengenai bayinya dan tampaknya perut bu Shanty mulai membesar. Ia menyatakan bahwa bayi-bayinya yang dulu lahir sangat kecil dan lemah dan ia menanyakan bagaimana caranya agar bayi yang ada dalam kandungannya dapat tumbuh sehat dan lahir normal.
            Pada kasus ini bu Shanty nampaknya bahagia dan menginginkan kehamilan tersebut. Dia membayangkan bahwa bayi merupakan makhluk tersendiri yang membutuhkan pertolongan ibu untuk dapat tumbuh. Dengan memberitahukan kehamilannya kepada orang lain, ia menunjukkan bahwa dia sedang menghadapi kehamilannya dengan baik.

3. Trimester III

            Trimester ketiga sering di sebut sebagai periode penantian. Pada periode ini wanita menanti kehadiran bayinya sebagai bagian dari dirinya, dia menjadi tidak sabar untuk segera melihat bayinya. Ada perasaan tidak menyenangkan ketika bayinya tidak lahir tepat pada waktunya, fakta yang menempatkan wanita tersebut gelisah dan hanya bisa melihat dan menunggu tanda-tanda dan gejalanya.
            Trimester tiga adalah waktu untuk mempersiapkan kelahiran dan kedudukan sebagai orang tua, seperti terpusatnya perhatian pada kehadiran bayi. Saat ini orang-orang di sekelilingnya akan membuat rencana pada bayinya. Wanita tersebut akan berusaha melindungi bayinya, dengan menghindari kerumunan atau seseorang atau apapun yang dianggap membahayakan. Dia akan membayangkan bahwa bahaya terdapat di dunia luar. Memilih nama adalah aktivitas yang di lakukan dalam mempersiapkan kehadiran bayi. Dia mungkin akan mencari buku yang berisi nama-nama atau mengikuti penyuluhan-penyuluhan kesehatan yang berkaitan dalam rangka mempersiapkan kelahiran dan kesiapan menjadi orang tua. Membuat atau membeli pakaian bayi, dan mengatur ruangan. Banyak hal yang di berikan untuk merawat bayinya.
            Sejumlah ketakutan terlihat selama trimester ketiga. Wanita mungkin khawatir terhadap hidupnya dan bayinya, dia tidak akan tahu kapan dia melahirkan. Mimpinya mencerminkan perhatian dan kekhawatirannya. Dia lebih sering bermimpi tentang bayinya, anak-anaknya, persalinan, kehilangan bayi, atau terjebak di suatu tempat kecil dan tidak bisa keluar. Ibu muali merasa takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada waktu melahirkan. Rasa tidak nyaman timbul kembali karena perubahan body image yaitu merasa dirinya aneh dan jelek. Ibu memrlukan dukungan dari suami, keluarga dan bidan.
            Wanita juga mengalami proses berduka seperti kehilangan perhatian dan hak istimewa yang dimiliki selama kehamilan, terpisahnya bayi dari bagian tubuhnya, dan merasa kehilangan kandungan dan menjadi kosong. Perasaan mudah terluka juga terjadi pada massa ini, Wanita tersebut mungkin merasa canggung, jelek, tidak rapi, dia membutuhkan perhatian yang lebih besar dari pasangannya. Pada pertengahan trimester ketiga, hasrat seksual tidak setinggi pada trimester kedua karena abdomen menjadi sebuah penghalang.


Contoh Kasus

            Ibu Dyah datang ke klinik untuk memeriksakan kehamilannya. Dalam anamnese yang Anda lakukan bu Dyah menyatakan bahwa perutnya semakin hari semakin mengeras dan sering kenceng-kenceng, ibu khawatir bayinya (yang akan di beri nama Retno kalau bayinya perempuan) sudah mencoba untuk mencari jalan keluar. Ibu ini cemas karena dia belum siap menerima kehadiran bayinya. Ibu juga mencemaskan persalinan kali ini sebab persalinannya yang pertama dulu berlangsung sangat lama dan sulit.
            Pada kasus ini ibu tampak mengkhawatirkan bayinya dan takut akan melahirkan. Apa yang di rasakan bu Dyah ini adalah normal. Kebanyakan ibu hamil memiliki perasaan dan kekhawatiran yang serupa pada umur kehamilan seperti ibu ini.

Adaptasi Maternal

Adaptasi terhadap peran sebagai ibu akan di lakukan oleh semua ibu hamil selama 9 bulan kehamilannya. Adaptasi ini merupakan proses sosial dan kognitif kompleks yang bukan di dasarkan pada naluri, tetapi di pelajari. Untuk menjadi seorang ibu, seorang remaja harus beradaptasi dari kebiasaan di rawat ibu menjadi seorang ibu yang melakukan perawatan. Sebaliknya, seorang dewasa harus mengubah kehidupan rutin yang di rasa mantap menjadi suatu kehidupan yang tidak dapat di prediksi, yang di ciptakan seorang bayi. Adaptasi ini merupakan adaptasi nullipara, atau wanita tanpa anak, menjadi wanita yang mempunyai anak; dan multipara, wanita yang memiliki anak, menjadi wanita yang memiliki anak-anak.
            Pengalaman subjektif tentang waktu dan ruang berubah selama masa hamil karena rencana dan komitmen, kini diatur oleh tanggal taksiran partus (TTP). Pada awal masa hamil tampaknya tidak ada yang terjadi dan untuk dapat menikmati waktu kosong tanpa beban ada keinginan untuk menghentikan tuntutan sosial dan aktivitas. Banyak waktu dihabiskan dengan tidur. Dengan munculnya quickening atau pergerakan janin yang dirasakan ibu pada trimester kedua, wanita mulai meluangkan waktu untuk memberikan perhatiannya ke dalam, yakni pada kandungannya dan pada hubungan dengan ibunya dan wanita lain yang pernah atau sedang hamil. Pada trimester ketiga terjadi perlambatan aktivitas dan waktu terasa cepat berlalu karena aktivitas wanita tersebut di batasi.
            Kehamilan dapat menyebabkan suatu krisis maturitas yang dapat menimbulkan stress, tetapi ini dapat di imbangi dengan kesadaran wanita tersebut untuk menyiapkan diri untuk memberi perawatan dan mengemban tanggung jawab yang lebih besar. Seiring persiapannya untuk menghadapi peran baru, wanita sebaiknya mengubah konsep dirinya supaya ia siap menjadi orang tua. Secara bertahap, wanita seharusnya berubah dari seseorang yang bebas dan berfokus pada diri sendiri menjadi seorang yang seumur hidup berkomitmen untuk merawat individu lain. Pertumbuhan ini membutuhkan pengetahuan dan keterampilan dalam penguasaan tugas-tugas perkembangan tertentu: menerima kehamilan, mengidentifikasi peran ibu, mengatur kembali hubungan antara dirinya dan pasangannya, membangun hubungan dengan anak yang belum lahir, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pengalaman melahirkan. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan emosi dari pasangan merupakan factor penting dalam mencapai keberhasilan tugas perkembangan ini.

Menerima Kehamilan

Langkah pertama dalam beradaptasi terhadap peran ibu ialah menerima ide kehamilan
dan mengasimilasi status hamil ke dalam gaya hidup wanita tersebut. Tingkat penerimaan di cerminkan dalam kesiapan wanita dan respon emosionalnya dalam menerima kehamilan.

Kesiapan Menyambut Kehamilan

Ketersediaan keluarga berencana mengandung makna bahwa kehamilan bagi banyak
wanita merupakan suatu komitmen tanggung jawab bersama pasangan. Namun, merencanakan suatu kehamilan tidak selalu berarti menerima kehamilan. Wanita lain memandang kehamilan sebagai suatu hasil alami hubungan perkawinan, baik diinginkan maupun tidak di inginkan, bergantung pada keadaan. Pada beberapa wanita, termasuk banyak remaja, kehamilan merupakan akibat percobaan seksual tanpa menggunakan kontrasepsi.
            Wanita yang siap menerima suatu kehamilan akan mendeteksi gejala-gejala awal dan mencari kebenaran tentang kehamilannya. Beberapa wanita yang memiliki perasaan kuat, seperti “tidak sekarang”, “bukan saya”, dan “tidak yakin”, mungkin menunda mencari pengawasan dan perawatan. Namun beberapa wanita menunda ke pelayanan kesehatan karena akses ke perawatan terbatas, merasa malu, atau karena alasan budaya. Untuk orang lain, kehamilan di pandang sebagai suatu peristiwa alami sehingga tidak perlu terburu-buru periksa ke tenaga kesehatan untuk memastikan kehamilannya.
Respon wanita menghadapi kenyataan hamil berbeda-beda dan bervariasi, dari perasaan sangat gembira sampai syok, tidak yakin, dan putus asa. Reaksi yang diperlihatkan banyak wanita ialah respon “suatu hari nanti, tetapi tidak sekarang”.
Ada suatu kebahagiaan sejati dalam mengetahui bahwa diri sendiri secara fungsional mampu untuk hamil. Ada kebahagiaan  tersendiri saat mengetahui bahwa orang lain turut gembira terhadap harapan untuk mendapatkan atau diberi seorang anak. Akan tetapi perasaan-perasaan ini muncul dengan bebas tanpa pertimbangan waktu. Secara personal dan pribadi , ia belum siap, tidak sekarang.
Beberapa wanita pasrah dan menerima kehamilannya sebagai kehendak Tuhan. Meskipun banyak wanita mula-mula terkejut mendapatkan diri mereka hamil. Namun, seiring meningkatnya penerimaan terhadap kehadiran seorang anak, mereka akhirnya akan menerima kehamilannya. Tidak menerima kehamilan tidak dapat disamakan dengan menolak anak. Seorang wanita mungkin tidak menyukai kenyataan dirinya hamil, tetapi ingin agar anak itu dilahirkan.

Respons Emosional

            Wanita yang bahagia dan senang dengan kehamilannya akan memandang hal tersebut sebagai pemenuhan biologis dan bagian dari rencana hidupnya. Mereka memiliki harga diri yang tinggi dan cenderung percaya diri akan hasil akhir untuk dirinya sendiri, untuk bayinya, dan untuk anggota keluarga yang lain. Meskipun secara umum keadaan mereka baik, namun sering dijumpai kelabilan emosional yang terlihat pada perubahan mood pada wanita hamil.
            Perubahan mood dan peningkatan sensitivitas terhadap orang lain akan membingungkan mereka sendiri dan juga orang-orang di sekelilingnya. Mudah tersinggung, menangis tiba-tiba, dan ledakan kemarahan serta perasaan suka cita, serta kegembiraan yang luar biasa muncul silih berganti hanya karena suatu masalah kecil atau bahkan tanpa masalah sama sekali.
            Penyebab perubahan mood ini kemungkinan karena perubahan hormonal dalam kehamilan, ini hampir sama seperti pre menstrual syndrome atau selama menopause. Selain itu masalah seksual atau rasa takut terhadap nyeri melahirkan, mungkin juga menjadi penyebab perubahan mood ini.
            Semakin tuanya kehamilan, wanita akan menjadi lebih terbuka tentang perasaannya pada dirinya dan pada orang lain. Mereka mulai mau membicarakan hal-hal yang tidak pernah dibahas sebelumnya atau yang dibahas hanya dalam keluarga dan tampak yakin bahwa pikiran-pikirannya dan gejala-gejala yang dialaminya akan menarik untuk si pendengar yang dianggapnya protektif. Keterbukaan ini, membawa manfaat karena wanita lebih siap untuk mempelajari segala sesuatu tentang kehamilan dan persalinan, mudah untuk bekerja sama dengan wanita hamil yang lain.
            Apabila kehamilan tersebut diinginkan, rasa tidak nyaman yang timbul akbat kehamilan cenderung dianggap sebagai suatu gangguan biasa dan upaya yang dilakukan untuk meredakan rasa tidak nyaman tersebut biasanya membawa keberhasilan. Rasa senang yang timbul karena memikirkan anak yang akan lahir dan perasaan dekat dengan anak membantu ibu menyesuaikan diri terhadap rasa tidak nyaman ini.
            Pada beberapa keadaan wanita yang biasanya mengeluh ketidaknyamanan fisik dapat mencari bantuan untuk mengatasi konflik peran ibu dan tanggung jawabnya. Pengkajian lebih lanjut tentang toleransi dan kemampuan koping perlu dilakukan.

 Respon Terhadap Perubahan Bentuk Tubuh

            Perubahan fisiologis kehamilan menimbulkan perubahan bentuk tubuh yang cepat dan nyata. Selama trimester pertama bentuk tubuh sedikit berubah dan kadang-kadang belum terlihat perubahan dalam bentuk tubuh. Tetapi, pada trimester kedua, pembesaran abdomen yang nyata, penebalan pinggang dan pembesaran payudara memastikan perkembangan kehamilan. Wanita merasa seluruh tubuhnya bertambah besar dan terlihat lebih gemuk. Perasaan ini semakin kuat seiring kemajuan kehamilan.
            Sikap wanita terhadap tubuhnya diduga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diyakininya dan sifat pribadinya. Sikap ini sering berubah seiring kemajuan kehamilan. Sikap positif terhadap tubuh biasanya terlihat selama trimester pertama. Namun, seiring kemajuan kehamilan, perasaan tersebut menjadi lebih negative. Pada kebanyakan wanita perasan tersebut hanya bersifat sementara dan tidak permanen karena akan segera hilang apabila mereka menerima kehamilannya dan hal ini tidak menyebabkan perubahan persepsi yang permanen tentang diri mereka.

Ambivalensi Selama Masa Hamil

            Ambivalensi didefinisikan sebagai konflik perasaan yang simultan berubah-ubah, seperti inta dan benci terhadap seseorang, sesuatu, atau keadaan. Ambivalensi adalah respon normal yang dialami individu yang mempersiapkan diri untuk suatu peran baru. Kebanyakan wanita memiliki sedikit perasaan ambivalen selama kehamilannya.
Perasaan ambivalen ini bias muncul pada semua wanita hamil bahkan pada saat wanita yang menghendaki dan bahagia dengan kehamilannya. Wanita dapat memiliki sekap bermusuhan terhdap kehamilan atau janin. Perasaan ambivalen ini dapat meningkat hanya karena hal-hal sepele seperti pernyataan pasangan tentang kecantikan seorang wanita yang tidak hamil atau pembicaraan teman mengenai keputusan untuk memiliki seorang anak berarti melepaskan pekerjaan dan lain-lain. Sensasi tubuh, perasaan bergantung, dan kenyataan tanggung jawab dalam merawat anak dapat memicu perasaan tersebut.
Perasaan ambivalen berat yang menetap sampai trimester ketiga dapat mengidentifikasi bahwa konflik peran sebagai ibu belum diatasi. Kenangan akan perasaan ambivalen ini biasanya lenyap dengan lahirnya seorang bayi yang sehat. Tetapi kelahiran bayi yang cacat, kemungkinan akan mengingatkan kembali saat-saat ia tidak menginginkan anak tersebut dan merasa sangat bersalah. Pada keadaan seperti ini ibu memerlukan penyuluhan dan dukungan yang memadai, agar ia menjadi yakin bahwa perasaan ambivalennya bukanlah penyebab kecacatan pada anaknya sendiri.

Menyiapkan Peran Ibu

Banyak wanita selalu menginginkan seorang bayi, menyukai anak-anak dan menanti untuk menjadi seorang ibu. Mereka sangat dimotivasi untuk menjadi orang tua.
Pada wanita lain yang tidak mempertimbangkan arti menjadi seorang ibu bagi diri mereka sendiri maka konflik selama masa hamil seperti tidak menginginkan kehamilan dan keputusan-keputusan yang berkaitan denga karir dan anak, harus diselesaikan segera agar dapat segera menyesuaikan diri dan tidak menimbulkan masalah-masalah yang lebih banyak dalam masa kehamilannya.

Menyiapkan Hubungan Ibu-Anak

Ikatan emosional dengan anak mulai pada periode prenatal, yakni ketika wanita mulai membayangkan dan melamunkan dirinya menjadi ibu. Mereka yang menantikan seorang bayi berkeinginan untuk menjadi orang tua yang hangat, penuh cinta, dan dekat denga anaknya. Mereka mencoba mengantisipasi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi pada kehidupannya akibat kehadiran sanga anak dan membayangkan apabila mereka bias tahan terhadap kebisingan, kekacauan, kekurangbebasan dan bentuk perawatan yang harus mereka berikan.
Hubungan ibu dan anak terus berlangsung sepanjang masa hamil sebagai suatu proses perkembangan. Tiga fase dalam pola perkembangannya menjadi jelas.

Pada Fase ke-1

Wanita menerima fakta biologis kehamilannya. Ia harus mampu mangatakan “saya hamil”, dan menyatukan anak tersebut ke dalam tubuh dan citra dirinya. Pada awal kehamilan pusat pikiran ibu berfokus pada dirinya sendiri. Anak dipandang sebagai bagian dari seseorang dan kebanyakan wanita berfikir bahwa janinnya tidak nyata pada awal periode masa hamil.

Pada Fase ke-2

Ibu menerima janin yang bertumbuh sebagai sesuatu yang terpisah dari dirinya dan sebagai seorang yang perlu dirawat. Ia sekarang dapat berkata “Saya akan memiliki bayi”. Selama trimester kedua, biasanya pada bulan kelima, kesadarannya akan anak sebagai makhluk yang terpisah semakin nyata, kemampuan untuk membedakan anak dari diri wanita itu sendiri ialah awal hubungan ibu dengan anak yang melibatkan bukan saja perawatan tapi juga tanggung jawab.
Dengan menerima realitas seorang anak (mendengar denyut jantung dan merasa gerakan janin) dan persaan sejahtera yang utuh wanita memasuki periode tenang dan lebih menjadi mawas diri. Anak fantasi suatu impian menjadi berharga dimata ibu. Ia tampak lebih memusatkan perhatiannya pada anak kandungnya. Suaminya kadang-kadang merasa diacuhkan dan anak-anak yang lain menuntut lebih banyak sebagai upaya untuk menarik kembali perhatian ibu kepada anak mereka.

Pada Fase ke-3

Ibu memulai dengan realistis mempersiapkan diri untuk melahirkan dan mengasuh anaknya. Ia akan mengatakan “Saya akan menjadi seorang ibu” dan ia mulai mendefinisikan sifat-sifat anak tersebut. Walaupun hanya ibu yang merasakan anak yang berada dalam kandungannya, kedua orang tua dan saudara-saudara percara bahwa anak dalam kandugan berespon dengan cara yang sangat pribadi dan individual. Anggota keluarga dapat berinteraksi sebanyak-banyaknya dengan anak dalam kandungan tersebut, misalnya dengan berbicara kepada janin dan mengelus perut ibu terutama ketika janin berubah posisi.







Semoga Berguna ^_^ Assalaamu'alaikum Wr. Wb.














DAFTAR PUSTAKA

Kusmiyati Yuni, Wahyuningsih Heni Puji. 2013. Asuhan Ibu Hamil. Yogyakarta : Fitramaya.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar