POLTEKKES KEMENKES MANADO
DIPLOMA III KEBIDANAN
Tugas ASKEB PERSALINAN dari ibu Gusti Ayu Tirtawati, SSiT, MKes.
MAKALAH
Mekanisme Persalinan Normal Sesuai
APN
KELOMPOK 8 :
Karisma Alva Tamba
TINGKAT : II A DIII KEBIDANAN
MK. : ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN
DAN BBL
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MANADO
DIPLOMA III KEBIDANAN
T/A : 2015 – 2016
BAB I. PEMBAHASAN
1. MEKANISME
PERSALINAN NORMAL
Mekanisme
persalinan merupakan gerakan janin dalam menyesuaikan ukuran dirinya dengan
ukuran panggul saat kepala melewati panggul. Mekanisme ini sangat diperlukan
mengingat diameter janin yang lebih besar harus berada pada satu garis lurus
dengan diameter paling besar dari panggul.
Panggul dan fetal skull
Tubuh janin
Letak
: hubungan poros panjang janin ke poros panjang ibu
Ø Membujur
Ø Melintang
Ø Miring/oblique
Letak
bayi
Presentase
: menunjukkan pada bagian bawah janin memasuki jalan masuk panggul bagian atas
Ø Kepala
: verteks, sinpital, dahi,muka
Ø Bokong
:murni, lengkap, prsentasi kaki
Ø Bahu
Sikap
Ø Flexi:
dagu melekat ke dada
Ø Lurus
Ø Ekstensi
: occiput mendekat ke belakang
Posisi
: hubungan antara bagian terendah janin dan sisi panggul ibu
Synclitisma/Asynclitisma
Ø Synclitimus
: sutura sagitalis berada pada pertengahan antara simpisis pubis dengan
promontorium
Ø Asynclitismus
: satura sagitalis mendekati simpisis pubis atau promontorium
Tengkorak
kepala janin
Terdiri
dari 5 tulang, 4 sutura dan 2 ubun-ubun
Batasan
tengkorak kepala dalam persalinan
Ø Ubun-ubun
anterior : dibentuk oleh pertemuan sutura frontalis, sagitalis dan coronaria,
berbentuk segi empat (diamond)
Ø Ubun-ubun
posterior : dibentuk dari sutura sagitalis dan lamboidea, berbentuk seperti
segitiga.
Ø Sutura
sagitalis : sutura antara 2 tulang pariental, yang merupakan petunjuk
synclitismus
Ø Molding
: perubahan bentuk kepala (kepala tumpang tindih) sebagai penyesuaian kepala
saat melewati panggul
Ø Caput
succadenum : pembengkakan edematous diatas kepala janin yang diakibatkan oleh
tekanan kepala saat melewati rongga panggul.
Diameter
kepala janin yang perlu diperhatikan :
a. Diameter
biparietal, yaitu jarak antara dua parietal (9,5 cm);
b. Diameter
suboccipito bregmatika jarak antara
pertemuan leher dan oksiput ke bregma (ubun-ubun besar 9,5 cm);
c. Diameter
occipitofrontalis. Jarak dari oksiput
ke sinsipital (11,5 cm);
d. occipitomento
yaitu jarak dari ubun-ubun kecil ke mentium / dahi (12,5 cm – 13,5 cm)
e.
submentobregmatik
yaitu jarak antara pertemuan leher dan rahang bawah ke bregma (9,5 cm)
submentobregmatik
yaitu jarak antara pertemuan leher dan rahang bawah ke bregma (9,5 cm)
Adapun
gerakan-gerakan janin dalam persalinan / gerakan kardinal adalah sebagai
berikut:
a.
Engagement;
Engagement
pada primigravida terjadi pada bulan
terakhir kehamilan, sedangkan pada multigravida
dapat terjadi pada awal persalinan. Engagement
adalah peristiwa ketika diameter biparietal
melewati pintu atas panggul dengan sutura
sagitalis melintang / oblik di dalam jalan lahir dan sedikit fleksi.
Masuknya kepala akan mengalami kesulitan bila saat masuk ke dalam panggul
dengan sutura sagitalis dalam anterior posterior. Jika kepala masuk ke
dalam pintu atas panggul dengan sutura
sagitalis melintang di jalan lahir, tulang parietal kanan dan kiri sama
tinggi, maka keadaan ini disebut sinklitismus.
Kepala
pada saat melewati pintu atas panggul dapat juga dalam keadaan yang menunjukkan
sutura sagitalis lebih dekat ke promontorium atau ke simfisis maka hal
ini disebut asinklitismus. Ada dua
macam asinklitismus, yaitu asinklitismus posterior dan asinklitismus anterior.
Perubahan
awal kepala janin dari asinklitismus
posterior kedalam keadaan asinklitismus
anterior memudahkan mekanisme persalinan, karena sesuai dengan keadaan
panggul dengan adanya lengkung sacrum. Engagement
dan penurunan kepala terjadi secara simultan / bersamaan, tetapi untuk
kepentingan pembelajaran dibahas secara terpisah.
b.
Penurunan
Kepala;
v Dimulai
sebelum onset persalinan / inpartu. Penurunan kepala terjadi bersamaan dengan
mekanisme lainnya.
v kekuatan
yang mendukung menurut Cuningham dalam buku Obstetri William yang diterbitkan
tahun 1995 dan ilmu Kebidanan Varney 2002:
1)
Tekanan
cairan amnion.
Tekanan
cairan amnion.
2) Tekanan
langsung fundus pada bokong.
3) Kontraksi
otot-otot abdomen.
4) Ekstensi
dan pelurusan badan janin atau tulang belakang janin.
c.
Fleksi
v Gerakan
fleksi disebabkan karena janin terus didorong maju tetapi kepala janin
terhambat oleh serviks, dinding panggul atau dasar panggul.
v Pada
kepala janin, dengan adanya fleksi maka diameter oksipitofrontalis 12cm berubah
menjadi sub oksipitobregmatika 9cm.
v Posisi
dagu bergeser ke arah dada janin.
v Pada
pemeriksaan dalam ubun-ubun kecil lebih jelas teraba dari pada ubun-ubun besar.
d.
Rotasi
Dalam
v
![]() |
Rotasi dalam atau putar paksi adalah pemutaran bagian terendah janin dari posisi sebelumnya kea rah depan sampai di bawah simpisis. Bila presentasi belakang kepala dimana bagian terendah janin adalah ubun-ubun kecil maka ubun-ubun kecil memutar ke depan sampai berada di bawah simpisis. Gerakan ini adalah upaya kepala janin untuk menyesuaikan dengan bentuk jalan lahir yaitu bentuk bidang tengah dan pintu bawah panggul. Rotasi dalam terjadi bersamaan dengan majunya kepala. Rotasi ini terjadi setelah kepala melewati hodge III (setinggi spina) atau setelah di dasar panggul. Pada pemeriksaan dalam ubun-ubun kecil mengarah ke jam 12.
v Sebab-sebab
adanya putar paksi dalam yaitu:
1) Bagian
terendah kepala adalah bagian belakang kepala pada letak paksi;
2) bagian
belakang kepala mencari tahanan yang paling sedikit yang di sebelah depan atas
yaitu hiatus genitalis antara muskulus
levator ani kiri dan kanan.
e.
Ekstensi
v Gerakan
ekstensi merupakan gerakan oksiput berhimpit langsung pada margo inferior
simpisis pubis.
v Penyebab
dikarenakan sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah ke depan dan
atas, sehingga kepala menyesuaikan dengan cara ekstensi agar dapat melaluinya.
Pada saat kepala janin mencapai dasar panggul tidak langsung terekstensi, akan
tetapi terus didorong ke bawah sehingga mendesak ke jaringan perineum. Pada
saat itu ada dua gaya yang mempengaruhi, yaitu:
1) Gaya
dorong dari fundus uteri ke arah belakang;
2) Tahanan
dasar panggul dari simpisis kea rah depan.
Hasil
kerja dari dua gaya tersebut mendorong ke vulva
dan terjadilah ekstensi.
Gerakan
ekstensi ini mengakibatkan bertambahnya penegangan pada perineum dan intruitus vagina.
Ubun-ubun kecil semakin banyak terlihat dan sebagai hypomochlion atau pusat pergerakan, maka berangsur-angsur lahirlah
ubun-ubun kecil, ubun-ubun besar, dahi, mata, hidung, mulut, dan dagu. Pada
saat kepala sudah lahir seluruhnya, dagu bayi berada di atas anus ibu.
f.
Rotasi
Luar
Terjadinya
gerakan rotasi luar atau putar paksi luar dipengaruhi oleh faktor-faktor
panggul, sama seperti pada rotasi dalam.
v Merupakan
gerakan memutar ubun-ubun kecil kea rah punggung janin, bagian belakang kepala
berhadapan dengan tuber iskhiadikum kanan atau kiri, sedangkan muka janin
menghadap salah satu paha ibu. Bila ubun-ubun kecil pada mulanya di sebelah
kiri maka ubun-ubun kecil akan memutar kea rah kiri, bila pada mulanya
ubun-ubun kecil di sebelah kanan maka ubun-ubun kecil berputar ke kanan.
v Gerakan
rotasi luar atau putar paksi luar ini menjadikan diameter biakromial janin
searah dengan diameter anteposterior pintu bawah panggul, satu bahu di anterior
di belakang simfisis dan bahu yang satunya di bagian posterior di belakang perineum.
v Sutura
sagitalis kembali melintang.
g.
Ekspulsi
Setelah terjadinya rotasi luar,
bahu depan berfungsi sebagai hypomochlion
untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian setelah kedua bahu lahir disusul
lahirnya trochanter depan dan belakang sampai lahir janin seluruhnya. Gerakan
kelahiran bahu depan, bahu belakang, badan seluruhnya.

MENOLONG
PERSALINAN SESUAI APN (ASUHAN PERSALINAN NORMAL)

Melihat
tanda dan gejala kala 2
Mengamati tanda dan
gejala kala 2
Menyiapkan
peralatan pertolongan persalinan
a.
Memastikan perlengkapan bahan dan
obat-obatan esensial yang siap digunakan. Mematahkan mapul oksitosin 10 unit
dan menempatkan tabung suntik steril sekali pakai didalam partus set .
b.
Mengenakan baju penutup atau celemek
plastik .
c.
Melepaskan semua perhiasan yang dipakai
dibawah siku. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir
dan mnegeringkan tangan dengan handuk 1x pakai/handuk pribadi yang bersih.
d.
Memakai sarung tangan desinfeksi tingkat
tinggi.
e.
Menyiapkan oksitosin 10 unit kedalam
spuit (dengan memakai sarung tangan) dan meletakkannya kembali di partus set
tanpa dekontaminasi spuit.
Memastikan
pembukaan lengkap dan keadaan janin baik
a.
Membersihkan vulva dan perinium,
menyekanya dengan hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas
atau kasa yang sudah dibasahi air DTT.
b.
Dengan menggunakan teknik aseptik,
melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah
lengkap (bila ketuban belum pecah maka lakukan amniotomi).
c.
Mendokumentasi sarung tangan.
d.
Memeriksa DJJ setelah berakhir setiap
kontraksi (batas normal 120-160x/menit)
Menyiapkan
ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinan meneran
a.
Memberitahukan ibu bahwa pembukaan sudah
lengkap dan keadaan janin baik, membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman.
b.
Meminta bantuan keluarga untuk
menyiapkan posisi ibu untuk meneran.
c.
Melakukan pimpinan meneran saat ibu
mempunyai dorongan kuat untuk meneran.
Persiapan
pertolongan kelahiran
a.
Jika kepala telah membuka vulva dengan
diameter 4-5 cm,meletakkan handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan
bayi.
b.
Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3
bagian dibawah bokong ibu.
c.
Membuka partus set.
d.
Memakai sarung tangan steril.
Memulai
meneran
a.
Jika pembukaan belum lengkap, tentramkan
ibu dan bantu pilihkan posisi yang nyaman.
b.
Jika ibu merasa ingin meneran namun
pembukaan belum lengkap, berikan semangat dan anjurkan ibu untuk bernafas cepat
dan bersabar agar jangan meneran dulu.
c.
Jika pembukaan sudah lengkap namun belum
ada dorongan untuk meneran, bantulah ibu memilih posisi yang nyaman untuk
meneran dan pastikan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi.
d.
Jika pembukaan sudah lengkap namun belum
ada dorongan untuk meneran, bantu ibu memilih posisi yang nyaman dan biarkan
berjalan-jalan.
e.
Jika ibu tidak merasa ingin meneran setelah
pembukaan lengkap selama 60 menit, anjurkan ibu untuk memulai meneran pada saat
puncak kontraksi, dan lakukan stimulasi putting susu serta berikan asupan gizi
yang cukup.
f.
Jika bayi tidak lahir setelah 60 menit,
lakukan rujukan (kemungkinan CPD, tali pusat pendek).
Cara
meneran
a.
Anjurkan ibu untuk meneran sesuai dengan
dorongan alamiahnya selama kontraksi.
b.
Jangan menganjurkan untuk menahan nafas
selama meneran.
c.
Anjurkan ibu untuk berhenti meneran dan
segera berisitirahat diantara kontraksi.
d.
Jika ibu berbaring miring atau setengah
duduk, ibu mungkin merasa lebih mudah untuk meneran jika ibu menarik lutut
kearah dada dan menempelkan dagu ke dada.
e.
Anjurkan ibu untuk tidak mengangkat
bokong saat meneran.
f.
Jangan melakukan dorongan pada fundus
untuk membantu kelahiran bayi. Dorongan pada fundus meningkatkan resiko
distosia bahu dan ruptur uteri.
Menolong
kelahiran bayi
a.
Saat
kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perinium dengan satu
tangan yang dilapisi kain, letakan tangan yang dilapisi kain, letakan tangan
yang lain di kepala bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak menghambat
pada kepala bayi, membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu
untuk meneran perlahan atau bernafas cepat saat kepala lahir.
Saat
kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perinium dengan satu
tangan yang dilapisi kain, letakan tangan yang dilapisi kain, letakan tangan
yang lain di kepala bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak menghambat
pada kepala bayi, membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu
untuk meneran perlahan atau bernafas cepat saat kepala lahir.
b.
Dengan lembut menyeka muka, mulut dan
hidung bayi dengan kain atau kasa bersih.
c.
Memeriksa lilian tali pusat dan jika
memang terdapat lilitan dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi.

d.
Menunggu hingga kepala bayi melakukan
putaran paksi luar secara spontan.
e.
Tempatkan kedua tangan dimasing-masing
sisi kedua muka bayi.
f.
Menelusurkan tangan mulai dari kepala
bayi yang berada dibagian bawah kearah perienum tangan membiarkan bahu dan
lengan posteroir lahir ke tangan tersebut.
g.
Menelusurkan
tangan yang berada diatas anterior dari punggung ke arah kaki bayi untuk
menyangga saat punggung dan kaki lahir. Memegang kedua mata kaki bayi dengan
hati-hati membantu kelahiran kaki.
Menelusurkan
tangan yang berada diatas anterior dari punggung ke arah kaki bayi untuk
menyangga saat punggung dan kaki lahir. Memegang kedua mata kaki bayi dengan
hati-hati membantu kelahiran kaki.
Penanganan
bayi baru lahir
a.
Menilai bayi dengan cepat, kemudian
meletakkan bayi diatas perut ibu dengan
posisi kepala bayi lebih rendah dari tubuhnya.
b.
Segera mengeringkan bayi. Membungkus
kepala dan badan bayi kecuali bagian tali pusat.
c.
Menjepit tali pusat menggunakan klem
kira-kira 3 cm dari pusat/umbilicial bayi.
d.
Memegang tali pusat dengan satu tangan
sambil melindungi bayi dari gunting, dan tangan yang lain memotong tali pusat
diantara dua klem tersebut.
e.
Mengganti handuk basah dan menyelimuti
bayi dengan kain atau selimut bersih, menutupi bagian kepala, membiarkan tai
pusat terbuka.
f.
Memberikan bayi kepada ibunya dan
menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu
menghendakinya.
Yang harus diperhatikan
pada saat pengeluran bayi
a.
Posisi ibu saat melahirkan bayi.
b.
Cegah terjadinya laserasi atau trauma.
c.
Proses melahirkan kepala.
d.
Memeriksa lilitan tali pusat pada leher
bayi.
e.
Proses melahirkan bahu.
f.
Proses melahiran tubuh bayi.
g.
Mengusap muka, mengeringkan dan rangsang
taktil pada bayi.
h.
Memotong tali pusat.
Gejala dan tanda
distosia bahu
a.
Turtle sign adalah kepala terdorong
keluar tetapi kembali kedalam vagina setelah kontraksi atau ibu berhenti
meneran.
b.
Tidak terjadi putaran paksi luar apabila
kepala telah lahir.
c.
Kepala tetap pada posisinya (dalam
vagina) walau ibu meneran sekuat mungkin.
TANDA GEJALA KALA II
Tanda gejala kala II terdiri dari:
a.
adanya dorongan mengejan;
b.
penonjolan pada perineum;
c.
vulva
membuka;
d.
anus membuka.
2. MANUFER
TANGAN DAN LANGKAH-LANGKAH DALAM MELAHIRKAN

Gambar. Manufer Ritgen
Tujuan
manufer tangan adalah untuk:
v Mengusahakan
proses kelahiran janin yang aman, mengurangi resiko trauma persalinan seperti
kejadian sepal hematum;
v Mengupayakan
seminimal mungkin ibu mengalami trauma persalinan;
v Memberikan
rasa aman dan kepercayaan penolong dalam menolong ibu dan janin.
Manufer tangan dan langkah-langkah
melahirkan janin adalah sebagai berikut:
a.
![]() |
Melahirkan Kepala Janin
v Tidak
memanipulasi atau tidak melakukan tindakan apapun pada perineum sampai kepala
tampak di vulva.
v 
Kepala bayi membuka vulva 5-6 cm (Crowning).

Kepala bayi membuka vulva 5-6 cm (Crowning).
v Letakkan
kain yang bersih dan kering yang dilipat 1/3 nya di bawah bokong ibu.
v Siapkan
handuk bersih di atas perut ibu (untuk mengeringkan bayi segera setelah lahir).
v Lindungi
perineum dengan satu tangan (dibawah kain bersih dan kering).
v Ibu
jari pada salah satu sisi perineum dan empat jari tangan pada sisi yang lain
dan tangan yang lain pada belakang kepala bayi.
v Menahan
belakang kepala dengan memberi tekanan terukur pada belakang kepala dengan cara
tiga jari tangan kiri diletakkan pada belakang kepala untuk menahan posisi
defleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan ibu meneran perlahan atau
bernafas cepat dan dangkal.
v
Setelah menyeka
mulut dan hidung bayi, kaji ada tidaknya lilitan tali pusat.
Setelah menyeka
mulut dan hidung bayi, kaji ada tidaknya lilitan tali pusat.
v Setelah
kepala lahir, menunggu beberapa saat untuk memberi kesempatan janin agar dapat
terjadi putar paksi luar (Eksternal
Rotation).
b.
Melahirkan
Bahu Janin
v
Setelah kepala
mengadakan putar paksi luar, kedua tangan penolong diletakkan pada kedua
parietal anterior dan posterior.
Setelah kepala
mengadakan putar paksi luar, kedua tangan penolong diletakkan pada kedua
parietal anterior dan posterior.
v
lakukan gerakan
tekanan ke arah bawah / tarikan ke bawah untuk melahirkan bahu depan dan
gerakan tekanan ke atas / tarikan untuk melahirkan bahu belakang.
lakukan gerakan
tekanan ke arah bawah / tarikan ke bawah untuk melahirkan bahu depan dan
gerakan tekanan ke atas / tarikan untuk melahirkan bahu belakang.
Gambar.
Persalinan Bahu Depan
Gambar. Persalinan Bahu Belakang


DAFTAR PUSTAKA
Sumarah, Widyastuti,
Wiyati. 2013. Perawatan Ibu
Bersalin(Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin).Yogyakarta: Fitramaya.
MHN. 2008. Asuhan Persalinan Normal depkes RI.
Jakarta.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar