Kamis, 13 Agustus 2015

Mekanisme Persalinan Normal Sesuai APN

POLTEKKES KEMENKES MANADO
DIPLOMA III KEBIDANAN





Tugas ASKEB PERSALINAN dari ibu Gusti Ayu Tirtawati, SSiT, MKes.













MAKALAH
Mekanisme Persalinan Normal Sesuai APN




KELOMPOK  8 :
Karisma Alva Tamba

TINGKAT : II A DIII KEBIDANAN


MK. : ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN DAN BBL



POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MANADO
DIPLOMA III KEBIDANAN
T/A : 2015 – 2016

BAB  I. PEMBAHASAN
1.      MEKANISME PERSALINAN NORMAL
Mekanisme persalinan merupakan gerakan janin dalam menyesuaikan ukuran dirinya dengan ukuran panggul saat kepala melewati panggul. Mekanisme ini sangat diperlukan mengingat diameter janin yang lebih besar harus berada pada satu garis lurus dengan diameter paling besar dari panggul.
Panggul dan fetal skull
Tubuh janin
Letak : hubungan poros panjang janin ke poros panjang ibu
Ø  Membujur
Ø  Melintang
Ø  Miring/oblique
Letak bayi
Presentase : menunjukkan  pada bagian  bawah  janin memasuki jalan masuk panggul bagian atas
Ø  Kepala : verteks, sinpital, dahi,muka
Ø  Bokong :murni, lengkap, prsentasi kaki
Ø  Bahu
Sikap
Ø  Flexi: dagu melekat ke dada
Ø  Lurus
Ø  Ekstensi : occiput mendekat ke belakang
Posisi : hubungan antara bagian terendah janin dan sisi panggul ibu
Synclitisma/Asynclitisma
Ø  Synclitimus : sutura sagitalis berada pada pertengahan antara simpisis pubis dengan promontorium
Ø  Asynclitismus : satura sagitalis mendekati simpisis pubis atau promontorium
Tengkorak kepala janin
Terdiri dari 5 tulang, 4 sutura dan 2 ubun-ubun
Batasan tengkorak kepala dalam persalinan
Ø  Ubun-ubun anterior : dibentuk oleh pertemuan sutura frontalis, sagitalis dan coronaria, berbentuk segi empat (diamond)
Ø  Ubun-ubun posterior : dibentuk dari sutura sagitalis dan lamboidea, berbentuk seperti segitiga.
Ø  Sutura sagitalis : sutura antara 2 tulang pariental, yang merupakan petunjuk synclitismus
Ø  Molding : perubahan bentuk kepala (kepala tumpang tindih) sebagai penyesuaian kepala saat melewati panggul
Ø  Caput succadenum : pembengkakan edematous diatas kepala janin yang diakibatkan oleh tekanan kepala saat melewati rongga panggul.

Diameter kepala janin yang perlu diperhatikan :

a.       Diameter biparietal, yaitu jarak antara dua parietal (9,5 cm);
b.      Diameter suboccipito bregmatika jarak antara pertemuan leher dan oksiput ke bregma (ubun-ubun besar 9,5 cm);
c.       Diameter occipitofrontalis. Jarak dari oksiput ke sinsipital (11,5 cm);
d.      occipitomento yaitu jarak dari ubun-ubun kecil ke mentium / dahi (12,5 cm – 13,5 cm)
e.       submentobregmatik yaitu jarak antara pertemuan leher dan rahang bawah ke bregma (9,5 cm)
Adapun gerakan-gerakan janin dalam persalinan / gerakan kardinal adalah sebagai berikut:
a.      Engagement;
Engagement pada primigravida terjadi pada bulan terakhir kehamilan, sedangkan pada multigravida dapat terjadi pada awal persalinan. Engagement adalah peristiwa ketika diameter biparietal melewati pintu atas panggul dengan sutura sagitalis melintang / oblik di dalam jalan lahir dan sedikit fleksi. Masuknya kepala akan mengalami kesulitan bila saat masuk ke dalam panggul dengan sutura sagitalis dalam anterior posterior. Jika kepala masuk ke dalam pintu atas panggul dengan sutura sagitalis melintang di jalan lahir, tulang parietal kanan dan kiri sama tinggi, maka keadaan ini disebut sinklitismus.
Kepala pada saat melewati pintu atas panggul dapat juga dalam keadaan yang menunjukkan sutura sagitalis lebih dekat ke promontorium atau ke simfisis maka hal ini disebut asinklitismus. Ada dua macam asinklitismus, yaitu asinklitismus posterior dan asinklitismus anterior.
Perubahan awal kepala janin dari asinklitismus posterior kedalam keadaan asinklitismus anterior memudahkan mekanisme persalinan, karena sesuai dengan keadaan panggul dengan adanya lengkung sacrum. Engagement dan penurunan kepala terjadi secara simultan / bersamaan, tetapi untuk kepentingan pembelajaran dibahas secara terpisah.

b.      Penurunan Kepala;
v  Dimulai sebelum onset persalinan / inpartu. Penurunan kepala terjadi bersamaan dengan mekanisme lainnya.
v  kekuatan yang mendukung menurut Cuningham dalam buku Obstetri William yang diterbitkan tahun 1995 dan ilmu Kebidanan Varney 2002:
1)      Tekanan cairan amnion.
2)      Tekanan langsung fundus pada bokong.
3)      Kontraksi otot-otot abdomen.
4)      Ekstensi dan pelurusan badan janin atau tulang belakang janin.

c.       Fleksi
v  Gerakan fleksi disebabkan karena janin terus didorong maju tetapi kepala janin terhambat oleh serviks, dinding panggul atau dasar panggul.
v  Pada kepala janin, dengan adanya fleksi maka diameter oksipitofrontalis 12cm berubah menjadi sub oksipitobregmatika 9cm.
v  Posisi dagu bergeser ke arah dada janin.
v  Pada pemeriksaan dalam ubun-ubun kecil lebih jelas teraba dari pada ubun-ubun besar.

d.      Rotasi Dalam
v 



Rotasi dalam atau putar paksi adalah pemutaran bagian terendah janin dari posisi sebelumnya kea rah depan sampai di bawah simpisis. Bila presentasi belakang kepala dimana bagian terendah janin adalah ubun-ubun kecil maka ubun-ubun kecil memutar ke depan sampai berada di bawah simpisis. Gerakan ini adalah upaya kepala janin untuk menyesuaikan dengan bentuk jalan lahir yaitu bentuk bidang tengah dan pintu bawah panggul. Rotasi dalam terjadi bersamaan dengan majunya kepala. Rotasi ini terjadi setelah kepala melewati hodge III (setinggi spina) atau setelah di dasar panggul. Pada pemeriksaan dalam ubun-ubun kecil mengarah ke jam 12.
v  Sebab-sebab adanya putar paksi dalam yaitu:
1)      Bagian terendah kepala adalah bagian belakang kepala pada letak paksi;
2)      bagian belakang kepala mencari tahanan yang paling sedikit yang di sebelah depan atas yaitu hiatus genitalis antara muskulus levator ani  kiri dan kanan.

e.       Ekstensi
v  Gerakan ekstensi merupakan gerakan oksiput berhimpit langsung pada margo inferior simpisis pubis.
v  Penyebab dikarenakan sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah ke depan dan atas, sehingga kepala menyesuaikan dengan cara ekstensi agar dapat melaluinya. Pada saat kepala janin mencapai dasar panggul tidak langsung terekstensi, akan tetapi terus didorong ke bawah sehingga mendesak ke jaringan perineum. Pada saat itu ada dua gaya yang mempengaruhi, yaitu:
1)      Gaya dorong dari fundus uteri ke arah belakang;
2)      Tahanan dasar panggul dari simpisis kea rah depan.
Hasil kerja dari dua gaya tersebut mendorong ke vulva dan terjadilah ekstensi.
Gerakan ekstensi ini mengakibatkan bertambahnya penegangan pada perineum dan intruitus vagina. Ubun-ubun kecil semakin banyak terlihat dan sebagai hypomochlion atau pusat pergerakan, maka berangsur-angsur lahirlah ubun-ubun kecil, ubun-ubun besar, dahi, mata, hidung, mulut, dan dagu. Pada saat kepala sudah lahir seluruhnya, dagu bayi berada di atas anus ibu.
f.       Rotasi Luar
Terjadinya gerakan rotasi luar atau putar paksi luar dipengaruhi oleh faktor-faktor panggul, sama seperti pada rotasi dalam.
v  Merupakan gerakan memutar ubun-ubun kecil kea rah punggung janin, bagian belakang kepala berhadapan dengan tuber iskhiadikum kanan atau kiri, sedangkan muka janin menghadap salah satu paha ibu. Bila ubun-ubun kecil pada mulanya di sebelah kiri maka ubun-ubun kecil akan memutar kea rah kiri, bila pada mulanya ubun-ubun kecil di sebelah kanan maka ubun-ubun kecil berputar ke kanan.
v  Gerakan rotasi luar atau putar paksi luar ini menjadikan diameter biakromial janin searah dengan diameter anteposterior pintu bawah panggul, satu bahu di anterior di belakang simfisis dan bahu yang satunya di bagian posterior di belakang perineum.
v  Sutura sagitalis kembali melintang.
g.      Ekspulsi
Setelah terjadinya rotasi luar, bahu depan berfungsi sebagai hypomochlion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian setelah kedua bahu lahir disusul lahirnya trochanter depan dan belakang sampai lahir janin seluruhnya. Gerakan kelahiran bahu depan, bahu belakang, badan seluruhnya.

MENOLONG PERSALINAN SESUAI APN (ASUHAN PERSALINAN NORMAL)
Description: C:\Users\Maria\Documents\gambar\clip_image002%5B3%5D.gif
Melihat tanda dan gejala kala 2
Mengamati tanda dan gejala kala 2
Menyiapkan peralatan pertolongan persalinan
a.       Memastikan perlengkapan bahan dan obat-obatan esensial yang siap digunakan. Mematahkan mapul oksitosin 10 unit dan menempatkan tabung suntik steril sekali pakai didalam partus set .
b.      Mengenakan baju penutup atau celemek plastik .
c.       Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan mnegeringkan tangan dengan handuk 1x pakai/handuk pribadi yang bersih.
d.      Memakai sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi.
e.       Menyiapkan oksitosin 10 unit kedalam spuit (dengan memakai sarung tangan) dan meletakkannya kembali di partus set tanpa dekontaminasi spuit.
Memastikan pembukaan lengkap dan keadaan janin baik
a.       Membersihkan vulva dan perinium, menyekanya dengan hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah dibasahi air DTT.
b.      Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah lengkap (bila ketuban belum pecah maka lakukan amniotomi).
c.       Mendokumentasi sarung tangan.
d.      Memeriksa DJJ setelah berakhir setiap kontraksi (batas normal 120-160x/menit)
Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinan meneran
a.       Memberitahukan ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman.
b.      Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran.
c.       Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan kuat untuk meneran.
Persiapan pertolongan kelahiran 
a.       Jika kepala telah membuka vulva dengan diameter 4-5 cm,meletakkan handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi.
b.      Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian dibawah bokong ibu.
c.       Membuka partus set.
d.      Memakai sarung tangan steril.
Memulai meneran
a.       Jika pembukaan belum lengkap, tentramkan ibu dan bantu pilihkan posisi yang nyaman.
b.      Jika ibu merasa ingin meneran namun pembukaan belum lengkap, berikan semangat dan anjurkan ibu untuk bernafas cepat dan bersabar agar jangan meneran dulu.
c.       Jika pembukaan sudah lengkap namun belum ada dorongan untuk meneran, bantulah ibu memilih posisi yang nyaman untuk meneran dan pastikan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi.
d.      Jika pembukaan sudah lengkap namun belum ada dorongan untuk meneran, bantu ibu memilih posisi yang nyaman dan biarkan berjalan-jalan.
e.       Jika ibu tidak merasa ingin meneran setelah pembukaan lengkap selama 60 menit, anjurkan ibu untuk memulai meneran pada saat puncak kontraksi, dan lakukan stimulasi putting susu serta berikan asupan gizi yang cukup.
f.       Jika bayi tidak lahir setelah 60 menit, lakukan rujukan (kemungkinan CPD, tali pusat pendek).
Cara meneran 
a.       Anjurkan ibu untuk meneran sesuai dengan dorongan alamiahnya selama kontraksi.
b.      Jangan menganjurkan untuk menahan nafas selama meneran.
c.       Anjurkan ibu untuk berhenti meneran dan segera berisitirahat diantara kontraksi.
d.      Jika ibu berbaring miring atau setengah duduk, ibu mungkin merasa lebih mudah untuk meneran jika ibu menarik lutut kearah dada dan menempelkan dagu ke dada.
e.       Anjurkan ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran.
f.       Jangan melakukan dorongan pada fundus untuk membantu kelahiran bayi. Dorongan pada fundus meningkatkan resiko distosia bahu dan ruptur uteri.
Menolong kelahiran bayi
a.       Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perinium dengan satu tangan yang dilapisi kain, letakan tangan yang dilapisi kain, letakan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi, membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan atau bernafas cepat saat kepala lahir.
b.      Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau kasa bersih.
c.       Memeriksa lilian tali pusat dan jika memang terdapat lilitan dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi.
Description: C:\Users\Maria\Documents\gambar\image%5B23%5D.png
d.      Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan.
e.       Tempatkan kedua tangan dimasing-masing sisi kedua muka bayi.
f.       Menelusurkan tangan mulai dari kepala bayi yang berada dibagian bawah kearah perienum tangan membiarkan bahu dan lengan posteroir lahir ke tangan tersebut.
g.      Menelusurkan tangan yang berada diatas anterior dari punggung ke arah kaki bayi untuk menyangga saat punggung dan kaki lahir. Memegang kedua mata kaki bayi dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.
Penanganan bayi baru lahir
a.       Menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakkan bayi diatas  perut ibu dengan posisi kepala bayi lebih rendah dari tubuhnya.
b.      Segera mengeringkan bayi. Membungkus kepala dan badan bayi kecuali bagian tali pusat.
c.       Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat/umbilicial bayi.
d.      Memegang tali pusat dengan satu tangan sambil melindungi bayi dari gunting, dan tangan yang lain memotong tali pusat diantara dua klem tersebut.
e.       Mengganti handuk basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau selimut bersih, menutupi bagian kepala, membiarkan tai pusat terbuka.
f.       Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya.
Yang harus diperhatikan pada saat pengeluran bayi
a.       Posisi ibu saat melahirkan bayi.
b.      Cegah terjadinya laserasi atau trauma.
c.       Proses melahirkan kepala.
d.      Memeriksa lilitan tali pusat pada leher bayi.
e.       Proses melahirkan bahu.
f.       Proses melahiran tubuh bayi.
g.      Mengusap muka, mengeringkan dan rangsang taktil pada bayi.
h.      Memotong tali pusat.
Gejala dan tanda distosia bahu
a.       Turtle sign adalah kepala terdorong keluar tetapi kembali kedalam vagina setelah kontraksi atau ibu berhenti meneran.
b.      Tidak terjadi putaran paksi luar apabila kepala telah lahir.
c.       Kepala tetap pada posisinya (dalam vagina) walau ibu meneran sekuat mungkin.
                          
TANDA GEJALA KALA II
            Tanda gejala kala II terdiri dari:
a.       adanya dorongan mengejan;
b.      penonjolan pada perineum;
c.       vulva membuka;
d.      anus membuka.


2.      MANUFER TANGAN DAN LANGKAH-LANGKAH DALAM MELAHIRKAN
Description: C:\Users\Maria\Documents\gambar\image%5B8%5D.png
Gambar. Manufer Ritgen

Tujuan manufer tangan adalah untuk:
v  Mengusahakan proses kelahiran janin yang aman, mengurangi resiko trauma persalinan seperti kejadian sepal hematum;
v  Mengupayakan seminimal mungkin ibu mengalami trauma persalinan;
v  Memberikan rasa aman dan kepercayaan penolong dalam menolong ibu dan janin.


Manufer tangan dan langkah-langkah melahirkan janin adalah sebagai berikut:
a.     



Melahirkan Kepala Janin

v  Tidak memanipulasi atau tidak melakukan tindakan apapun pada perineum sampai kepala tampak di vulva.
v 
Kepala bayi membuka vulva 5-6 cm (Crowning).
v  Letakkan kain yang bersih dan kering yang dilipat 1/3 nya di bawah bokong ibu.
v  Siapkan handuk bersih di atas perut ibu (untuk mengeringkan bayi segera setelah lahir).
v  Lindungi perineum dengan satu tangan (dibawah kain bersih dan kering).
v  Ibu jari pada salah satu sisi perineum dan empat jari tangan pada sisi yang lain dan tangan yang lain pada belakang kepala bayi.
v  Menahan belakang kepala dengan memberi tekanan terukur pada belakang kepala dengan cara tiga jari tangan kiri diletakkan pada belakang kepala untuk menahan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan ibu meneran perlahan atau bernafas cepat dan dangkal.
v  Setelah menyeka mulut dan hidung bayi, kaji ada tidaknya lilitan tali pusat.
v  Setelah kepala lahir, menunggu beberapa saat untuk memberi kesempatan janin agar dapat terjadi putar paksi luar (Eksternal Rotation).

b.      Melahirkan Bahu Janin
v  Setelah kepala mengadakan putar paksi luar, kedua tangan penolong diletakkan pada kedua parietal anterior dan posterior.

v  lakukan gerakan tekanan ke arah bawah / tarikan ke bawah untuk melahirkan bahu depan dan gerakan tekanan ke atas / tarikan untuk melahirkan bahu belakang.
Gambar. Persalinan Bahu Depan




                                                                   Gambar. Persalinan Bahu Belakang



DAFTAR PUSTAKA

Sumarah, Widyastuti, Wiyati. 2013. Perawatan Ibu Bersalin(Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin).Yogyakarta: Fitramaya.
MHN. 2008. Asuhan Persalinan Normal depkes RI. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar